TNI Akan Isi Materi Nasionalisme di Sekolah

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan melibatkan Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk mengisi materi nasionalisme. Terutama pada masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) siswa baru.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan, sebagai bagian dari penguatan pendidikan karakter, maka pada masa pengenalan sekolah baru siswa baru akan dibina karakter nasionalisme yang materinya akan mengacu pada Kemendikbud. PLS dulu dikenal dengan masa orientasi siswa (MOS).

Mendikbud membenarkan, Kemendikbud akan menggandeng TNI pada masa PLS tahun ini. “Kami (Kemendikbud) akan melibatkan personel TNI untuk penyelenggaraan kegiatan Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) mulai dari jenjang SD, SMP, SMA, dan SMK dengan penguatan materi dasar berkaitan nasionalisme, bela Tanah Air, cinta Tanah Air sebagai bagian dari penguatan pendidikan karakter siswa,” tandas Muhadjir seusai rapat koordinasi antara Kemendikbud dengan TNI mengenai Pengenalan Lingkungan Sekolah di Kantor Kemendikbud, Jakarta.

Mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang ini menerangkan, karakter utama yang diajarkan kepada siswa baru di sekolah adalah mengenai nasionalisme yang bertujuan untuk menangkal paham radikalisme di kalangan siswa. “Ingin memberikan daya tangkal agar memiliki self defence bagi pengaruh dan paham yang dapat berpengaruh kepada NKRI. Ini simultan dan mencakup seluruh sekolah,” tandasnya.

Muhadjir mengungkapkan, pelibatan TNI sangatlah penting untuk PLS agar dapat menjangkau para siswa di seluruh Indonesia, khususnya di wilayah perbatasan. “Karena potensi infrastruktur yang dimiliki TNI dan keberagaman cerita keberhasilan para personel TNI untuk meningkatkan karakter nasionalisme di kalangan siswa,” paparnya.

PLS akan berlangsung selama dua minggu pertama awal masuk sekolah. Adapun mekanisme pembinaan adalah dengan melibatkan langsung para personel TNI ke sekolah-sekolah. “Aparat TNI akan terjun ke sekolah SD, SMP, SMA, SMK paling lama dua minggu dan kegiatan dilanjutkan dengan mengajak para siswa mengenal pusat persenjataan dan berbagi pengalaman selama bertempur agar memberikan inspirasi bagi siswa mengenai nasionalisme,” ujarnya.

Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto mengatakan, materi pembinaan akan bersumber kepada penyiapan karakter siswa berdasarkan empat pilar kebangsaan Indonesia yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika.

Hal ini, lanjut Panglima, adalah untuk menyiapkan karakter siswa dalam menghadapi bonus demografi di tahun 2045. “Cinta Tanah Air, bela negara akan disiapkan, menyesuaikan dengan materi Kemendikbud,” tandas Panglima.

Hadi menjelaskan, TNI akan mempersiapkan personel yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. “TNI siapkan personel di seluruh Tanah Air, Koramil (Komando Rayon Militer), Lanal (Pangkalan TNI Angkatan Laut), Lanud (Pangkalan Udara Militer), sehingga mudah menjangkau (siswa) di wilayah terpencil, termasuk wilayah perbatasan,” jelasnya.

TNI, ujarnya, berkomitmen mendukung PLS dengan materi menyesuaikan dengan arahan Kemendikbud. Panglima TNI mencontohkan, kegiatan upacara bendera dan latihan baris-berbaris merupakan bentuk pembinaan nasionalisme paling mendasar bagi siswa.

“Pembinaan karakter di wilayah perbatasan tidak memiliki kesulitan karena adanya personel di seluruh Tanah Air dengan pembinaan paling ringan misalnya pelajaran baris-berbaris dan upacara bendera. Ada penanaman cinta Tanah Air dan bela negara, kemudian disesuaikan dengan kebutuhan siswa,” paparnya.

Menanggapi penjelasan Mendikbud, Hadi pun menjanjikan untuk mengerahkan para anggota TNI yang tersebar di setiap lini sesuai dengan kebutuhan sekolah yang tersebar di wilayah Indonesia. “TNI akan menyesuaikan jumlah sekolah untuk PLS. Kami akan mengerahkan seperti sebanyak 60.000 anggota Babinsa yang tersebar di wilayah Indonesia, anggota Lanal di wilayah pesisir, batalyon marinir,” ujar Hadi.

Terpenting, pengerahan anggota tidak akan meninggalkan tugas pokok sebagai TNI. “Akan dikerahkan semua dengan tidak meninggalkan tugas pokok. Untuk itu, perlu diberikan pelatihan dari Kemendikbud,” ungkapnya.