Soekarno & Relevansi Ajaran Mahasiswa Sebagai “Guardian of Value”.

Perkembangan zaman sudah tak terelakkan, globalisasi, zero 4.0 dan modernitas sudah menjadi candu setiap mahasiswa & pemuda.

Sejalan dengan hal tersebut Kearifan lokal yang dimiliki bangsa ini sudah mulai surut, tatanan idiologi dan pengamalan mulai terkikis, dahulu pemuda Indonesia sangat sopan dan menghargai yang lebih tua sekarang tak ada beda antara tua maupun muda, tidak hormat pada pimpinan, moral dan tata cara berprilaku tidak lagi mencerminkan sebagai pemuda Indonesia yang berbudaya, pemuda dahulu elegan sopan dan saling bahu membahu, menolong sesama Dan saling membantu sesama (gotong royong) kini semakin pudar dari kehidupan sosial masyarakat kita

Mahasiswa sebagai Guardian of Value berarti mahasiswa berperan sebagai penjaga nilai-nilai di masyarakat.

Nilai yang harus dijaga adalah sesuatu yang bersifat benar mutlak, dan tidak ada keraguan lagi di dalamnya. Namun apa yang terjadi sebagai kelompok penjaga nilai-nilai kebudayaan yang sudah mengakar malah merekalah yang menghancurkan-nya akhirnya, Cultur Lag (Kesenjangan Budaya) terjadi.

Sebagai soekarnois, saya menekankan kepada segenap pemuda dan mahasiswa, kelompok nasionalis agar menunjukan sikap kegotongroyangan sebagai solusi atas kesenjangan sosial Dan kasus-kasus intoleransi yang marak kian terjadi.

Padahal sikap kegotongroyongan adalah hakikat dari pada gagasan awal terbentuknya bangsa yang plural, yang dipersatukan dalam satu tekad perjuangan untuk memerdekakan bangsa ini.

“Gotong royong adalah pembanting tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-membantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebhagiaan semua”. (Soekarno, 01 Juni 1945). Inilah Yang hilang dari kita saat ini, yang menjadi benih dari cikal bakalnya kepentingan kelompok, awal dari sekat sosial, etntitas, ras & keyakinan.

“Kita mendirikan negara Indonesia, yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan Islam buat Indonesia, bukan Hadikoesoemo buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia, semua buat semua! Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan ‘gotong royong’. Negara yang kita dirikan haruslah negara gotong royong!” (Sekretariat Negara Republik Indonesia, 1995:82.). Jika semua ini kita notalgiakan, kita kembalikan, maka masyarakat Indonesia akan menjadi masyarakat yang satu untuk persatuan.

Saatnya kita kembalikan ajaran soekarno ini sebagai solusi atas berbagai perosalan sosial Yang menjadi tugas kita bersama saat ini, benar apa yang disampaikan oleh Abdillah. “Dalam perjalanan bangsa terjadi perubahan dalam sikap budaya bangsa Indonesia. Sikap budaya gotong royong yang semula menjadi sikap hidup bangsa telah mengalami banyak gempuran yang terutama bersumber pada budaya global yang mementingkan kebebasan individu. Masyarakat menjadi cenderung individualis, konsumeris, dan kapitalis sehingga rasa kebersamaan, kekeluargaan, dan senasib sepenanggungan antar sesama manusia mulai hilang.” (Abdillah, 2011:8-9), inilah akar masalahnya.

Yang menjadi pertanyaan mampukah kita kembalikan ajaran soekarno ini pada masa-masa sekarang?

Ditulis oleh: Sandri Rumanama (Alumni GmnI & Ketua OKK DPP PEMUDA LIRA).

Mungkin Anda Menyukai