Silat Betawi, Simbol Perlawanan ke Penjajah Kini “Hanya” Dipakai di Acara Pernikahan

Silat Betawi merupakan salah satu jenis pencak silat khas Indonesia yang masih banyak ditekuni sampai kini. Meski eksistensinya saat ini hanya sebagai pelengkap upacara pernikahan dan pentas budaya, silat betawi pernah jadi alat perlawanan rakyat Indonesia terhadap penjajah di jaman pra-kemerdekaan.

Menurut Syafi’i, salah satu pemilik sanggar silat betawi di Kampung Belendung, kota Tangerang aliran silat betawi yang berkembang di Kota Tangerang salah satunya silat Beksi. Beksi sendiri awalnya berkembang di daerah Dadap kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang.

Jurus ini diperkenalkan oleh seorang Tionghoa yang bernama Lie Ceng Oek dan jurus tersebut diberi nama Bie Sie, namun akhirnya berubah menjadi Beksi karena logat masyarakat Betawi saat itu. Ada juga yang mengartikan Bek artinya pertahanan dan Sie artinya empat, yang berarti pertahanan empat arah.

Silat Betawi

Selain Beksi, Syafi’i juga mengajarkan aliran Seliwa, ciri khas aliran silat ini adalah pada permainan golok. Permainan golok pada aliran Seliwa ini sangat cepat, sehingga butuh ketangkasan dalam mengayunkan golok.

Syafi’i menuturkan, keahlian beladiri pada zaman itu memang penting. Orang yang keahlian silat yang tinggi akan dipanggil dengan sebutan jawara dan sangat disegani oleh orang banyak. Belajar bela diri bagi anak-anak betawi jadi salah satu kewajiban. Bahkan sama wajibnya dengan belajar mengaji. Sedari kecil, ilmu beladiri itu diajari secara turun-temurun. Setelah beranjak remaja, mereka mulai belajar di padepokan yang didirikan oleh para jawara kampung.

“Saya belajar silat itu dari kecil, dulu anak-anak sini memang banyak yang belajar silat. Sudah turun temurun istilahnya. Orang zaman dulu pasti bisa silat, apalagi pas jaman penjajah” ujar Syafi’i.

Padepokan silat di Kampung Belendung sendiri banyak didirikan oleh murid Haji Kilin dan ketiga saudaranya. Haji Kilin sendiri dikenal sebagai ulama yang tak hanya pandai mengeluarkan jurus silat, namun juga mendalami ilmu agama sehingga sangat disegani oleh warga kampung Belendung. Banyak orang yang belajar agama pada mereka berempat.

Para jawara saat itu memang banyak yang dibekali ilmu agama, karena kekuataan para jawara bukan hanya lewat ketahanan fisik, namun juga kekuatan batin. Para jawara akan membekali diri dengan ilmu agama agar menghasilkan kekuatan yang tidak tertandingi. Saat itu, jawara memang masih banyak yang memakai kekuatan tenaga dalam untuk melumpuhkan musuh.

“Kalau dulu kan, masih banyak yang pakai tenaga dalam. Itu mereka dapat kekuatannya bukan hanya latihan silat, tapi juga lewat pendalaman ilmu agama. Lewat zikir, doa, puasa dan ibadah lainnya” jelas Syafi’i.

Seiring berjalannya waktu, fungsi dari silat betawi mengalami perubahan. Jika di jaman pra-kemerdekaan silat digunakan jawara untuk mengalahkan musuh dan juga menjaga rumah orang kaya, saat ini silat betawi juga digunakan sebagai hiburan untuk pelestarian budaya. Salah satunya, tradisi palang pintu.

Ilustrasi

“Kalau jawara dulu itu sebagai penjaga dan penguasa kampung. Beberapa juga dipakai jadi centeng, yang jaga rumah orang Belanda atau warga pribumi yang kaya. Sekarang, selain untuk bela diri silat jadi hiburan dan tradisi seperti palang pintu” ujar Syafi’i.

Palang pintu sendiri merupakan tradisi pernikahan budaya betawi. Palang pintu dilakukan untuk membuka jalan bagi calon pengantin pria untuk bisa menemui calon pengantin wanita. Perwakilan jawara dari kedua pihak akan beradu silat untuk menentukan apakah calon pengantin pria diizinkan menemui calon pengantin wanita. Palang pintu tak hanyak menampilkan kehebatan jawara mengeluarkan jurus silat, tapi juga menunjukan kepiawaian berbalas pantun.

“Palang pintu sendiri menggabungkan dua budaya betawi, pantun dan silat. Dua orang perwakilan dari pihak perempuan dan laki-laki bertarung untuk menentukan boleh tidaknya pengantin laki-laki menemui pengantin perempuan” jelas Syafi’i.

Belum ada kepastian mengenai kapan dimulainya tradisi palang pintu sendiri, namun duel silat antara dua orang tersebut memang lazim dilakukan untuk bisa mempersunting wanita terutama jika wanita tersebut merupakan putri seorang jawara. Sang jawara akan menikahkan putrinya dengan seorang pria yang bisa mengalahkan putrinya. Bahkan, menurut cerita yang beredar si Pitung juga mengalahkan seorang jawara untuk mempersunting putri jawara itu.

“Kurang tau yang sejak kapan, yang pasti tradisi palang pintu itu untuk menunjukan kalau laki-laki itu mampu melindungi dan mengayomi istrinya” jelas Syafi’i.

Murid di sanggar silat yang dikelola oleh Syafi’i sendiri banyak dipanggil untuk kepentingan palang pintu atau sekedar pentas budaya. Tak hanya sanggar silat milik Syafi’i, sanggar silat lain di daerah kecamatan Benda juga kerap dipanggil untuk mengisi acara budaya.

“Sanggar kecil ada 40 yangg besar paling 3, sekarang ada kelompok-kelompoknya istilahnya paguyuban lah. Jadi kalau ada yang mau menikah pakai palang pintu yang ngambil disini atau di sanggar yang lain,” ujar pria yang sudah 30 tahun mengajar silat betawi ini.

Silat Betawi

Syafi’i berharap silat betawi dan budaya lainnya, masih tetap lestari. Terakhir, Syafi’i mengingatkan siapapun bisa mempelajari silat betawi, karena silat betawi tidak dikhususkan untuk golongan tertentu. Namun yang terpenting adalah niat dan kesungguhan untuk bisa menguasai ilmu silat.

“Silat betawi bisa dipelajari siapapun, laki-laki perempuan, mau dia suku apapun agama apapun boleh, yang penting niat sungguh-sungguh. Karena ilmu silat tidak bisa dikuasai tanpa niat dan kesungguhan hati,” tutupnya.