Refleksi Kaum Perempuan Dalam Era Kekinian )*

Rekonstruksi social yang terjadi pada perempuan sangatlah cepat, semua terjadi secara alamiah. Jika dilihat dari makna sebenarnya, perempuan di tinjau dari pandangan epistimologis: Perempuan berasal dari kata ‘Empu’ yang berarti ‘Tuan’ atau orang yang mahir dan berkuasa, ataupun ‘Kepala, dan biasa juga disebut sebagai orang yang berkuasa, orang yang paing besar, maka kita kenal sebutan ‘Empu’ jari atau ‘Ibu’ jari.

Kata perempuan juga berakar kuat ‘Empuan’ yang selanjutnya menjadi pemendekan kata dan menjadi ‘Puan. Puan disini berarti orang yang dihormati, ( Puan ) perempuan yang dihormati, yang menjadi lawan kata dari ‘Tuan’ yang berarti juga sebagai laki-laki yang di hormati.

Begitu luas makna perempuan, begitu tinggi arti perempuan. Selain tingginya makna perempuan menurut istilah, ternyata tinggi pula perempuan dalam sebuah perjuangan juga dalam pembangunan.

Terlibatnya perempuan dalam sector public tidaklah hanya sebagai pajangan semata, atau sebagai penghalang dalam melakukan segala bentuk kegiatan. Namun yang terjadi pada perempuan kekinian adalah sudah mulai dan bahkan banyak melibatkan diri pada beberapa sector. Selain melibatkan diri, dan dilibatkan langsung, bukti beberapa keterlibatan perempuan sudah banyak, bahkan sudah mulai di akui.

Peran dan fungsi perempuan dalam sector public dan domestic sudahlah tidak lagi diragukan keberadaannya. Perempuan tidaklah sebagai “instrument”, namun bersifat sebagai pelakon utama.

Dalam sector public. Terjunnya perempuan langsung ( sekalipun jadi buruh pabrik ) membuktikan bahwa perempuan tidaklah hanya berada dalam sector domestic saja, yang hanya berkutat dengan dapur, sumur dan kasur. Disini benar jelaslah nampak peran dan fungsi perempuan. Selain sebagai ibu dan pendidik bagi anak-anaknya, atau pendamping pada suami, perempuan juga mampu berperan sebagai pencari nafkah tambahan. Hal ini tidaklah lantas menjadikan perempuan sebagai kaum yang tertindas, dan menjadi pandangan perempuan berada dalam urutan kedua dalam dunia public. Kini saatnyalah putar balikkan stigma itu, agar perempuan tidaklah lagi selalu merasa dirugikan. Ini sudah jelas terbuktinya bahwa Gender yang sering di dengung-dengungkan sejak dulu kini sudahlah nyata, yang berteriak menginginkan “Kesetaraan”. Karena secara tidak langsung rekonstruksi social telah menghantarkan kita pada masa “Kesetaraan” meski belum sepenuhnya. Memang, sampai saat ini selain sudah terwujudnya kesetaraan, ternyata banyak pula terjadi ketimpangan-ketimpangan social mengenai perempuan. Bahkan dalam hal ini ketimpanganlah yang sering kali muncul di media, segala bentuk persoalan yang menghancam perempuan, baik pemerkosaan, penganiayaan, dan traffickingpun, hal itulah yang senantiasa terawasi mata media. Sehingga sedikit kesetaraan yang telah di capai tertutupi begitu saja, bahkan jarang sekali terkena mata media. Memang hal seperti ini harus di atasi, segala bentuk persoalan perempuan haruslah cepat di tangani dan cepat mengambil sikap.

Perempuan Dalam Politik

Eksistensi perempuan dalam politik sudahlah terwujud, dan tidak hanya itu saja, kini pengakuanpun sudah mulai timbul dan semakin kuat dari setiap sudut pandanga, Namun, tidaklah hanya sekedar pengakuan saja, ada hal juga harus terpenuhi. Misalnya, hak dalam pemenuhan yang memang seharusnya diterima perempuan. Hak berpolitik, hak kemerdekaan, hak dalam mengambil keputusan, dan masih banyak lagi. Ini jelaslah memang harus terpenuhi untuk mencapai kesetaraan sesungguhnya. Penuhi hak perempuan dengan tidak menanggalkan peran dan fungsinya sesuai dengan kodrat, maka kemerdekaan untuk perempuan akan terpenuhi. Kemerdekaan yang sesungguhnya, yang di ciptakan berdasarkan kesadaran dan sosialisme antar sesama.

Politik yang berarti kekuasaan, ataupun pemetaan untuk mencapai pemenuhan kekuasaan atau juga pengambil alihan, baik dalam segala putusan ataupun bentuk kepemimpinan, haruslah dipahami oleh kaum perempuan, sehingga perempuan mampu terjun dalam dunia politik. Politik yang banyak disangkut pautkan dengan kegiatan yang bersifat praktisi. Tanpa disadari, dalam kehidupan berumah tanggapun kegiatan politik sudah dilakukan. Misal’ pengambil alihan kekuasaan dalam mengatur keuangan, ataupun peran utama dalam mengurus dan mendidik anak, dan segala bentuk putusan yang mampu ditangani perempuan dalam rumah tangga. Itu sudah termasuk dalam berpolitik.

Kini saatnyalah saling menyadarkan. Sosialisme yang harus diciptakan. Perempuan sebagai tiang Negara jelaslah itu kita akui bersama, perempuan adalah separuh dari tenaga manusia, maka itu perempuan harus disadarkan, karena perempuan yang sadar adalah syarat mutlak dalam pembangunan ( Ir. Soekarno ),

Perempuan dalam perjuangan

Perempuan dalam perjuangan. Sejak dulu hingga sekarang perempuan sudah berada dalam barisan perjuangan, bahkan dalam hal menciptakan rumah yang pertama kali adalah perempuan, yang mulai bercocok tanam pada masa itu adalah perempuan

Pada waktu itu perempuan yang sudah menikah dan memiliki anak pula dibawa sang suami untuk mencari tempat tinggal di suatu tempat, dimana bisa hidup dan makan, maka disitulah bertempat tinggal, hingga pada suatu saat perempuan di tinggal sang suami pergi berburu, dengan waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Sejak itulah perempuan mulai berfikir kuat, berfikir bagaimana caranya untuk dapat bertahan hidup bersama anak-anaknya, dan dapat berteduh manakala hujan turun, dan menghindarkan diri dari sengatan teriknya. Pada mula itulah perempuan mulai memanfaatkan segala tanaman yang disekitarnya untuk bisa dikonsumsi selama ditinggal berburu sang suami. Mulailah pada masa itu perempuan bercocok tanam, dengan segala jenis tanaman di tanamnya, demi kelangsungan hidup, dan mulailah pula pada masa itu perempuan menciptakan rumah. Bersama anak tercinta, perempuan mulai berfikir lagi bagaimana dapat menciptakan tempat berteduh. Dengan peralatan seadanya dan bahan seadanya perempuan mampu membuat rumah. Dari situ sudah jelas terlihata bagaimana perempuan terlibat dalam perjuangan, meski dalam perjuangan hidup sekalipun. Namun itu titik awal bagaimana pada masa itu perempuan berada dalam sebuah perjuangan.

Perempuan harus menjadi roda hebat dalam revolusi nasional. Dan didalam masyarakat keadilan sejahtera sosiallah perempuan nanti menjadi perempuan yang bahagia, dan perempuan yang merdeka. ( Oda 0306 )

Sosok Kartinipun menjadi salah satu inspirasi kita hingga saat ini. Tidak hanya Kartini saja, masih banyak pula perempuan yang terlibat dalam perjuangan pada masanya. Namun sosok Kartini yang begitu kental ditelinga dan ingatan kita. Perjuanagnnya dalam memperjuangkan hak-hak perempuan sebagaimana mestinya pada masa itu memberikan lampu terang pada masa kita saat ini. Segala bentuk daya upayanya untuk memperjuangkan hak, mulai dari hak hidup, haka memilih, hak dalam mengenyam bangku pendidkan sampai pada hak untuk dapat di akui keberadaan perempuan pada masa itu.

Sungguh perjuangan yang tiada hentinya. Meski harus bertentangan dengan sosok yang dicintainya ( Ayah Kartini ), meski harus menjadi musuh ayah nya sendiri. Segala bentuk ketidak adilan dan penindasan pada masa itu kuat diperjuangkan, tidak hanya untuk perempuan, namun untuk pribumi yang tertindas, untuk kaum ploletar, untuk rakyat miskin, untuk teman sebangsa dan setanah air yang pada masa itu terampas hak-haknya. Selain itu, tidak hanya Kartini saja. S.K Trimurti juga menjadi sosok yang kuat untuk kita. Masa perjuangan Trimurti untuk dapat turut serta meramaikan politik dengsn gerakan-gerakan perempuan pada masa itu sangartlah penuh perjuangan. Mulai harus pergi dari kota tercinta, dan meninggalkan keluarga, serta menanggalkan jabatannya sebagai bagian dari orang pemerintahan pada masa itu. Luar biasa semangatnya hanya untuk melibatkan dirinya sebagai perempuan agar di anggap ada dan meiliki hak suara dalam demokrasi Negara. Ikut andil dalam perjuangan bangsa dan Negara, dan menyadarkan perempuan pada masa itu.

Masih ada lagi sosok perempuan yang terlibat dalam perjuangan bangsa dan Negara. Sampai saat ini pun, perempuan tetap menjadi pejuang. Untuk keluarga, bangsa dan Negara, perempuan ikut andil. Contoh seperti di atas yang tengah dipaparkan. Dengan terjun ke dunia public, dan terlibat dalam politik, serta ikut andil dalam segala bentuk putusan. Meski tak dapat dipungkiri, dari apa yang ada saat ini ternyata masih banyak pula yang harus diselesaikan. Menuju kemerdekaan yang sesungguhnya untuk perempuan, kemerdekaan yang sejati.

Feminisme sosialisme mungkin yang kita butuhkan, meski kata feminisme sebenarnya saat ini tidaklah lagi hangat diperbincangkan, dan tak ada lagi gerakan-gerakannya. Namun tak salah kalau itu dapat kita jadikan pioner. Karena sejarah akan pasti berulang. Perempuan sebagai penyeimbang…***

* Neng Ulya Abdullah

Mungkin Anda Menyukai