Potensi Perempuan Memahami Digital Bermanfaat Bagi Keluarga

SuaraPersatuan.com – Isu perempuan merupakan salah satu isu lintas sektoral (cross cutting issues) dan melebur di berbagai lini pembangunan. Semua perempuan dapat berperan dalam pembangunan meskipun Indonesia sedang mengalami pandemi Covid-19 sejak satu tahun yang lalu. Potensi perempuan di masa pandemi Covid-19 sangat luas, baik sebagai tenaga kesehatan perawat pasien Covid-19, tenaga pendidik, pejabat pemerintah, atlet, pengusaha UMKM, bahkan pengemudi ojek online, maupun Ibu Rumah Tangga yang mendampingi anak belajar di rumah.

Namun akses perempuan dalam bidang pengetahuan, teknologi informasi dan komunikasi masih terbatas. Data penggunaan telepon seluler, kepemilikan telepon seluler, penggunaan komputer, penggunaan internet menunjukkan kesenjangan antara laki-laki dan perempuan. Dalam berbagai bidang pengetahuan, teknologi, informasi dan komunikasi perempuan masih tertinggal dalam kesempatan memperoleh dan mengakses informasi. Penduduk laki-laki yang mengakses internet mencapai 50,5 persen sedangkan perempuan hanya 44,86 persen, berdasarkan data Profil Perempuan 2020 yang diterbitkan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Hambatan lainnya, adalah perempuan cenderung mudah percaya hoaks dan menyebarkannya karena aspek psikologis perempuan dan emosi perempuan yang tidak stabil ketika menerima informasi apalagi informasi untuk melindungi keluarganya. Contohnya hoaks penculikan anak, bencana alam, dan kesehatan. Hoaks yang menargetkan emosi juga rentan dipercaya oleh perempuan, antara lain berkaitan dengan identitas, agama, dan kesukuan. Padahal, dampak hoaks ini sangat besar dan merusak.

Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Wiryanta mengatakan bahwa pemerintah selalu hadir dalam mendukung perempuan hebat dan juga pemerintah akan selalu memberikan pelayanan dalam membuat perempuan semakin memahami dan tahu akan pentingnya dalam dunia digital.

Dalam webinar yang diselenggarakan pada 27 April 2021, hadir 3 narasumber yakni, Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan, Kemen PPPA Ratna Susianawati, Komite Edukasi Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Heni Mulyati dan Peranata Humas Kota Depok & Pegiat Literasi Digital Rita Nurlita.

Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan, Kemen PPPA Ratna Susianawati menjelaskan bahwa berdasarkan data dari satgas Covid-19 kelompok lansia adalah yang paling rentan. Peran central perempuan sangat dominan dalam kondisi saat ini, karena semua kegiatan dilakukan di rumah. Perempuan merupakan potensi sumberdaya bangsa yang potensial, perempuan dapat menjadi manager ekonomi, manager keuangan, manager aktivitas dan juga menager dalam membangun ketahanan keluarga.

“Butuh sinergi dan dukungan dari semua pihak untuk mendukung peran perempuan. Kita bisa mulai dari diri sendiri dan keluarga, apa yang terlihat di depan mata,” ujar Ratna.

Komite Edukasi Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) mengungkapkan bahwa banyak pendapat perempuan adalah menjadi korban hoax terbanyak karena minimnya pengetahuan dan juga informasi mengenai berita. Seperti dikatakan perempuan saat ini harus lebih paham dan tau dalam segala hal di bidang digital untuk bisa menjadikan benteng dalam hal penyebaran informasi yang salah.

Sementara itu menurut Pranata Humas Kota Depok & Pegiat Literasi Digital, Rita Nurlita menguraikan, hal terpenting adalah bagaimana perempuan menjadi sahabat terbaik bagi anak, karena ini menjadi dasar dalam proses pembelajaran era digital. Mengetahui potensial diri dan menjaga serta melindungi anak dari perkembangan digital.

“Dengan menerapkan 4D + 1N ( Dekat, Diskusi, Dukung, Dampingi + Nikmati ) dapat menjadikan perempuan hebat dan mandiri,” pungkasnya.

Mungkin Anda Menyukai