Pj Wali Kota Belum Restui Uji Coba Sekolah Tatap Muka di Pulau

Rencana Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Makassar untuk membuka sekolah tatap muka di kepulauan belum mendapat restu dari Pj Wali Kota Makassar, Rudy Djamaluddin.
Rudy mengaku tak ingin mengambil resiko dengan melakukan uji coba pembelajaran tatap muka di sekolah meski di wilayah kepulauan. Rawan memicu klaster baru.

Ia pun meminta kepada Disdik Kota Makassar untuk mempertimbangkan kembali rencana pembelajaran tatap muka di pulau. Rudy tidak ingin anak-anak usia SD-SMP yang rawan tertular penyakit dirugikan akibat coba-coba. “Saya sudah sampaikan tolong ditimbang baik-baik dulu, jangan sampai pembukaan di satu tempat bisa memincu pembukaan di tempat lain dan akhirnya membuat episentrum baru,” kata Rudy, kemarin.

Menurut Rudy, tingkat penularan COVID-19 pada anak didik cukup tinggi. Apalagi, tanggungjawab Pemkot Makassar berada pada jenjang pendidikan SD-SMP. Rawan tertular. Terlalu beresiko jika dibiarkan.  “Satu hal yang penting, kita tidak mau mengorbankan anak-anak kita hanya dengan upaya coba-coba,” tutur Rudy.

Terpisah, Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia, Muhammad Rahmli Rahim megatakan pembukaan sekolah tatap muka di tengah pendemi memang butuh kajian yang matang. Meski begitu, budaya bersekolah di tengah pandemi harus di bangun.

“Jadi memang perlu kajian maksimal, ini usulan kami untuk membangun budaya belajar dalam suasana COVID-19,” ujar Ramli.

Meski begitu, menurut dia pemerintah sebaiknya mulai membuka sekolah tatap muka dari seiolah yang dianggap paling aman dan paling kecil. Tentunya dengan menerapkan protokol kesehatan ekstra ketat.

Seperti pembatasan jumlah siswa, jaga jarak, pakai masker, dan menyiapkan handsanitizer atau alat cuci tangan. Termasuk melakukan swab selama 14 hari sekali bagi peserta didik.

Kata dia, sekolah tatap muka ini pun bisa dijadikan uji managemen. Seberapa jauh persiapan Disdik Kota memulai kembali sekolah tatap muka sekaligus membuat managemen pembelajaran dan protokol kesehatan di tengah kondisi sekarang.

“Jika ini berhasil maka akan menjadi prestasi sendiri bagi Kota Makassar, dan tidak menutup kemungkinan bisa diikuti oleh daerah lain,” paparnya.