Pisang Ambon asal Banten Go Internasional, Akan Diekspor ke Arab Saudi

Setelah hampir empat Tahun menggeluti usaha budi daya pisang, Eka Suryana akhirnya mendapatkan angin segar buah dari kerja kerasnya.

Kini pisang yang selama ini dia tanam mendapat penawaran untuk ekspor ke Arab Saudi melalui sebuah perusahaan eksportir di Bandung, Jawa Barat.

Pisang yang rencananya akan diekspor ke Arab Saudi itu, sebelumnya telah dilakukan survei dan uji sampel oleh pihak Kedutaan Besar Arab Saudi untuk Indonesia. Hasilnya pisang ambon asli Banten ternyata mengalahkan pisang ambon dari daerah lain karena rasa dan ukuran pisang berbeda.

“Alhamdulillah. Saya mendapat kabar baik dari seorang sahabat di Bandung. Katanya pisang Ambon asli Banten ini akan dikirim ke Kedutaan Arab Saudi di Kota Jeddah,” kata Eka Surya.

Eka mengemukakan, permintaan untuk memasok Pisang Ambon Banten, awalnya berdasarkan permintaan dari kedutaan Arab Saudi, yang berada di Jeddah. Hal itu dikarenakan, kata dia, Pisang Ambon Banten Selatan secara kualitas maupun kuantitas sangat bagus.

“Arab Saudi meminta Pisang Ambon Banten, karena kualitas bagus. Beda wilayah, beda rasa. Wilayah lain tidak sebagus di Banten selatan, manis dan kenyal. Dimasak pun mengeras,” ujar dia.

Dalam sehari dia bisa mengirim sebanyak 1 ton sampai 2 ton pisang Ambon melalui perusahaan eksportir di Bandung, Jawa Barat.

“Dengan di-back up perkebunan Eka Karya Farm, kami bisa mempersiapkan kemasan menarik. Pisang dimasukan ke dalam peti dan dibungkus daun pisang. Kemudian dikirim ke kantor cabang perekonomian Arab Saudi di Bandung,” tutur Eka.

Selama budidaya pisang, Eka menyayangkan, Pemerintah Kabupaten Lebak dan Pemprov Banten, sangat minim perhatian terhadap petani pisang. Padahal dia meyakini pisang merupakan salah satu buah-buahan yang memiliki potensi pasar luar biasa.

“Saya membuka kesempatan bagi siapapun yang mau riset ke tempat perkebunan pisang ambon untuk sampel kualitas. Sehingga pisang dari Banten Selatan bisa benar-benar bersaing dengan pisang dari daerah luar Banten,” ungkap dia.

Eka mengatakan, kendala untuk budi daya pisang Ambon seringkali kesulitan dalam mendapatkan bibit unggul. Sehingga ia mengajak agar petani-petani untuk budi daya bibit dan pemerintah setempat dapat melalukan pembinaan terhadap para petani pisang.

Pisang Ambon ini dapat dipanen setelah satu tahun masa tanam. Kalau sudah panen satu kali, biasanya pada 3 hingga 6 bulan ke depan sudah bisa dipanen lagi. Begitu seterusnya.

“Dibandingkan dijual di lokal, harga jual untuk ekspor tentu lebih tinggi. Karena memang pisangnya disortir dan memakai kemasan yang harus benar-benar bagus. Jadi saya mengajak pada para petani pisang agar menanam pisang Ambon asli Banten, dan saya siap menampung,” tandas Eka.