Nasib (Petani) Bawang Merah

SETIAP kali panen raya bawang merah hadir. Petani bawang merah di Brebes selalu merana dan merugi. Merana dan merugi bukan oleh siapa-siapa, namun oleh perilaku bangsa kita sendiri.

Miris memang, hasil panen melimpah, dan terbaik di Indonesia namun tak membuat petani kita sumringah. Apa daya, hasil panen setiap kali panen datang tak membuat petani menikmati hasil, namun malah menumpuknya utang dimana-mana. Siapa salah?.

 

Rintihan Petani

Coba kita hayati rintihan petani bawang merah yang ada. Proses memproduksi bawang merah dimulai pertama, pembelian bibit yang sudah sangat mahal, karena permainan tengkulak nakal. Misalnya dalam 1 hektar areal sawah membutuhkan 1 ton benih, dengan harga benih per kilo gram di pasar sekitar Rp. 15.000 sampai Rp. 22.000. Paling tidak membutuhkan modal benih Rp. 15 juta sampai 22 juta, belum yang lain. Kedua, persiapan lahan sawah dan pemeliharaan selama dua bulan. Proses ini membutuhkan tenaga setidaknya 15 sampai 20 orang bahkan bisa lebih, belum lagi alat-alat sarana dan produksi (saprodi), dan obat-obatan hama, dan pupuk untuk menghasilkan bawang merah yang berkualitas.

Ketiga, masa panen, setidaknya masih membutuhkan tenaga 45 orang dengan ongkos pekerja Rp. 35.000 sampai Rp. 40.000. Keempat, pengeringan bawang merah memakan waktu 10 hari. Kelima, permainan tengkulak, dengan mendatangkan bawang merah ke Brebes dari Thailand, India, dan Cina untuk mempengaruhi psikologi pasar, agar harga bawang merah Brebes anjlok semurah mungkin.

 

Biaya produksi untuk semua proses selama 2 (dua) bulan untuk 1 (satu) hektar sawah membutuhkan modal sekitar Rp. 60 juta, jika harga pasar sekarang Rp. 3000 sampai Rp. 4.000 maka petani sangat merugi mulai Rp. 20 juta sampai 30 juta. Belum lagi dengan petani yang mengarap sawah orang lain, dan petani yang punya modal pas-pasan.

Brebes yang mempunyai lahan tanam bawang merah sekitar 26.000 hektar dengan hasil panen per hektar sekitar 20 ton. Bertahun-tahun, bermusim-musim panen raya selalu saja mengalami modus yang sama. Ini menandakan bahwa peran pemerintah pusat dan daerah sangat tidak maksimal kalau tidak mau dikatakan mendiamkan saja kasus yang sama.

 

Kebijakan Musiman

Setiap kali ganti Menteri Pertanian, perdagangan dan perindustrian, petani tidak pernah menikmati hasil kebijakan yang berpihak pada petani bawang merah, dan bawang merah itu sendiri. Subtansi utama, dan kebijakan tak pernah dilakukan oleh pemerintah. Masalah utama adalah permainan tengkulak, baik pada saat tanam dan panen raya yang tentu saja kebijakan setengah hati pemerintah pusat dan daerah. Yang ada pemerintah pusat selalu menyalahkan pemerintah daerah. Padahal kalau mau jujur semuanya harus bertanggungjawab. Karena permasalahan ini pemerintah pusat dan daerah harus duduk bersama, bukan saling menyalahkan. Malah petani yang dibingungkan karena adanya saling lempar tanggungjawab.

 

Perlu keseriusan semua pihak. Jangan sampai petani murka turun ke jalan dan berbuat anarkis kepada pengusaha bawang merah yang nakal. Karena ketidakjelasan, dan ketidaktegasan mentan dan pihak terkait. Selain itu, kebijakan yang menguntungkan petani segera direalisasikan. Misalnya, aturan menteri Nomor 18/Permentan/OT.140/2/2/2008 tentang Persyaratan dan Tindakan Karantina Tumbuhan Untuk Pemasukan Hasil Tumbuhan Hidup Berupa Sayuran Umbi Lapis Segar Ke Dalam Wilayah Negara Republik Indonesia, masih saja tidak tegas diberlakukan oleh mentan. Sistem devitalisasi terhadap komoditi pemasukan, juga tidak berjalan baik. Malah menyengsarakan saat masa tanam petani.

 

Selain itu, dengan memberikan aturan pengelolan bawang merah yang ramah terhadap lingkungan. Jangan sampai petani jor-joran dalam memakai obat-batan, pupuk kimia yang malah menghancurkan kesuburan tanah. Yang selama ini mengkhawatirkan perilakunya di Brebes.

 

Para petani harus diajak berdiskusi, solusi terbaik apa yang harus dilakukan. Bukan malah mentan menyuruh petani untuk tidak menjual hasil panen secepat mungkin, namun diimbau untuk menahan hasil panen hingga harga kembali normal. Padahal kebutuhan sehari-hari, hutang menantinya. Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk petani juga tidak menyelesaikan masalah. Karena masih saja dengan prosedur yang berbelit-belit. Petani masih dijadikan objek masalah, namun bukan dijadikan subjek untuk mengambil kebijakan yang berjangka panjang.

 

Kesan sulitnya menyelesaikan masalah bawang merah Brebes, menjadi pertanyaan kita. Tanpa ada kemauan dari mentan dan pemda menelorkan kebijakan nasib petani dan bawang merah akan tetap sama. Dengan  mencotohkan Pemda Bantul yang menyediakan 3 miliar dan mengkritik pemda Brebes yang hanya 1,10 miliar adalah bukan menyelesaikan akar permasalahan yang sudah bertahun-tahun, apalagi alasan panen raya.

 

Pasar Potensial

Kalau mau jujur Brebes yang menyumbang 23 persen pasokan bawang merah untuk pasar nasional dan 35 persen untuk pulau jawa harus menjadi perhatian serius oleh pemerintah. Ini akan menjadikan pasar potensial, jika dimenej dengan baik oleh pemerintah. Sehingga perlu adanya manajemen terpadu. Yang berasal dari semua intansi dan aparat hukum untuk menjalankan aturan yang ketat, tentunya berpihak pada petani bawang merah.

 

Banyaknya tempat penyimpanan bawang merah di Brebes harus didata ulang, pemda juga harus tegas terhadap pengusaha bawang merah yang bermain seenaknya hanya kepentingan pribadi. Tindak tegas, jika perlu tutup ijinnya di Brebes. Sidak juga harus dilakukan, dengan adanya bawang merah import, yang setiap hari mendatangkan bawang ke Brebes.

 

Pasar potensial ini perlu dilakukan kebijakan terpadu segera, jangan sampai bawang merah yang dipasok dari Jawa Barat (Jabar) sebesar 118.795 ton (16 persen), Jawa Tengah (Jateng) 202.692 ton (28 persen), Jawa Timur (Jatim) 233.098 ton (32 persen), DI Yogyakarta 21.444 ton (3 persen) dan Luar Jawa 156.363 ton (21 persen). Kalah bersaing dengan bawang import yang selama ini beredar di Indonesia. Hasil melimpah tapi petani selalu merugi. Menyedihkan, kita belum merdeka!!!

 

*Karno Roso

* Aktif di Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), dan Ikatan Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI) Kabupaten Brebes.

Mungkin Anda Menyukai