Islam Dibangun dari Ritual Penyucian

ISLAM agama yang mencintai kebersihan, baik lahir maupun batin, jasmani maupun ruhani. Dalam Islam, istilah yang dekat dengan kebersihan adalah kesucian.

Bahasa yang digunakan Alquran untuk menunjukkan kesucian adalah thaharah dan tazkiyah. Kata thaharah dan turunannya seperti thuhrah, thahir, tathhir, dan mutatahhir sering dikaitkan dengan kesucian jiwa. Istilah lain untuk menunjuk kesucian adalah fitrah yang berasosiasi dengan kesucian primordial.

Kesucian dan kebersihan adalah tema yang sangat sentral dalam islam. Hampir semua kitab fikih memulai pembahasannya dengan bab thaharah. Islam dibangun dari ritual penyucian.

Menyembah Allah melalui salat harus didahului dengan penyucian, melalui wudhu untuk menghilangkan hadats kecil dan mandi untuk menghilangkan hadats besar. Kesucian mengisi aspek batin, kebersihan mewakili aspek fisik.

Aisyah RA meriwayatkan, Rasulullah adalah orang yang sangat peduli kebersihan dan kesucian. Beliau selalu menata rapi jenggotnya, menyukai siwak, dan tidak jarang membersihkan sendiri kamar tidurnya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: “Jagalah kebersihan dengan segala usaha yang mampu kamu lakukan. Sesungguhnya Allah menegakkan Islam diatas prinsip kebersihan. Dan tidak akan masuk surga, kecuali orang-orang yang bersih” (HR. Thabrani).

Allah juga menyukai orang-orang yang menyucikan diri, sebagaimana Allah menyukai orang-orang yang bertaubat (Innallah yuhibut tawwabin wa yuhibbul mutathahhirin) (QS. Al-Baqarah/2: 222). Aspek lain kebersihan dan kesucian dalam dimensi harta benda.

Penyucian harta benda, Allah memberikan caranya yaitu dengan jalan membayar zakat dengan segala jenisnya, dan infaq-shodaqah. Cara inilah yang sesungguhnya dalam Islam selalu mempunyai dimensi sosial. Harta yang kita miliki adalah titipan Allah yang harus dibagi bahkan itu adalah hak orang lain, hak fakir, miskin, ghorim, ibnu shabil.

Marilah kita melakukan penyucian diri, lahir batin, jasmani rohani, dan harta benda kita. Secara lahir, mari kita jaga kebersihan dan kesucian diri dan lingkungan.

Secara batin, mari kita melakukan amal-amal ibadah untuk membersihkan diri dari kotoran hidup, menahan hawa nafsu, kemudian berzakat sehingga di akhir Ramadan kita akan kembali kepada fitrah, sebuah kesucian primordial. Dari harta benda, mari kita membayar zakat dan memperbanyak infaq dan shodaqah. Bulan Ramadan inilah saat kita memulai. Jangan ditunda.

Inspirasi Ramadhan 1440 H

Oleh Ali Masykur Musa

(Ketua Umum PP ISNU-Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama)