Haji Normal Baru?

BUKAN hanya 200.000-an calon haji Indonesia, saya pun jadi ikutan berdebar menunggu kejelasan terkait keputusan pelaksanaan Haji 2020. Informasi terakhir, pemerintah Indonesia cq Kementerian Agama, tengah menunggu lampu hijau kepastian dari pemerintah Arab Saudi (KSA) sampai batas waktu 1 Juni ini.

Persiapan sana-sini jalan terus, tapi jika Kemenag ditanya, tiada lain sikap selain menunggu keputusan dari Arab Saudi alias idle. Mengapa? Isu haji sensitif, supersensitif malahan. Salah-salah kata malah bisa bikin gusar calhaj yang selama ini bersabar sekian tahun untuk berhaji. Bisa diamuk.

Memakai istilah seorang kolega, “jangan sampai calhaj ketunda lu ditagih pertanggungjawabannya di akhirat”. Itu sebabnya, kalau bisa, bola panas jadi atau tidaknya keberangkatan haji tahun ini, jangan berada di tangan pemerintah. Benarkah?

Jadi Tamu Allah

Sungguh tidak bisa tergambarkan bahagianya orang pergi berangkat haji. Bagi saya, rasanya baru kemarin. Kala itu, hanya (saya ulang, hanya) dengan jalan dan kuasa Allah yang menggerakkan, saya jadi berangkat haji tahun 2019. Jalurnya, Media Center Haji (MCH), program kerja sama peliputan haji, yang annual dihelat Kementerian Agama lewat Panitia Penyelenggara Ibadah Haji atau PPIH 2019. Unik bahkan berbau kebetulan, tapi itu betul-betul rezeki terbaik saya, subhanallah.

Kenapa unik? Prosesnya terbilang cepat. Kenapa kebetulan? Tidak pernah terlintas niatan untuk pergi berhaji, saat itu. Bahkan kalau harus jujur, di setiap amalan-amalan yang kemudian disertai doa, saya meminta duniawi saja. “Yaa Rabb, tambahkan dan lapangkan rezeki saya, anak istri saya,” atau “Yaa Rabb, saya ingin semua utang saya lunas, penghasilan besar sehingga bisa menafkahi keluarga,”.

Kelak kemudian ternyata doa-doa saya dijawab lengkap baik duniawi dan ukhrawi dan Allah maha pemberi rezeki terbaik. Saya menjadi satu dari sekian kisah insan yang merindukan namanya dipanggil Baitullah, menjadi tamu Allah. Banyak yang ingin berangkat, tapi tak sedikit yang mesti bersabar menunggu giliran.

Pandemi dan Haji

Pemerintah Arab Saudi hingga tulisan ini dibuat mulai berangsur mengubah ketentuan lockdown wilayahnya secara bertahap. Melalui dekrit Raja, kegiatan ekonomi masyarakat mulai dibuka, pusat aktivitas publik, transportasi, termasuk masjid (masjid Nabawi di Madinah, insya Allah segera menyusul juga masjidil Haram di Makkah) pada akhir Mei ini. Namun sejumlah protokol kesehatan tetap diberlakukan, sebagai contoh di masjid, jamaah perlu memberi lebar jarak 2 meter.

Data yang dilansir Kementerian Kesehatan Arab Saudi seusai Lebaran, kasus positif virus corona atau Covid-19 mencapai 80.000-an dengan perincian sembuh 54.000-uan dan angka meninggal 440 orang, sementara wilayah kota Makkah menjadi lokasi dengan kasus terbanyak.

Kondisi ini tidak lepas dari upaya pemerintah memerangi penyebaran Covid-19. Seorang kolega yang tengah menyelesaikan studi S3 di Madinah bercerita, bahwa tim medis dan kesehatan Saudi beberapa minggu ini terjun ke kampung-kampung untuk mengecek kesehatan penduduk dan pemukim secara masif. Jumlahnya ribuan per hari dan deteksi ini dibarengi tingkat kesembuhan yang lebih banyak.

Meski dinilai positif, normalnya tempat ekonomi dan publik tidak serta merta berimbas ke haji. Kota Makkah masih jadi pengecualian pelonggaran. Apalagi haji menyangkut jumlah orang secara fisik yang berkumpul di satu waktu, perlu penyesuaian ekstra.

Berkaca dari pengalaman haji Indonesia sebelumnya, penyesuaian meliputi seluruh tahapan pra, masa puncak haji dan pasca-pelaksanaan. Tahapan pra adalah kondisi semenjak calhaj di embarkasi, keberangkatan dan kedatangan di Tanah Suci, termasuk masa tinggal sebelum masuk puncak.

Pada tahapan ini, 230.00 calhaj terbagi gelombang pertama (rute perjalanan ke Madinah dulu baru ke Makkah) dan gelombang dua (rute ke Makkah lanjut ke Madinah). Sementara masing-masing gelombang melibatkan 200-300 kloter (450 orang/kloter). Persoalan muncul bagaimana protokol jaga jarak di embarkasi, di bandara/pesawat, di kamar penginapan, di kendaraan/bus sholawat yang selalu penuh, misalnya, bagaimana mengatur lebar jarak 2 meter.

Upaya ekstra dibutuhkan saat masuk tahapan puncak haji di kota Makkah (fase pergerakan Arafah-Muzdalifah-Mina). Haji Indonesia berkumpul bersama jutaan orang dari berbagai negara lain. Persoalan utama menyangkut bagaimana pelaksanaan wajib dan rukun haji, misal Tawaf, bagaimana jaga jarak calhaj mengelilingi Kakbah atau pembagian jika pun harus dibuat shift. Meski sudah diperluas area mataf, atau di bagian koridor 1 hingga atap, tetap saja dirasa sempit jika memasuki puncak haji.

Menilik praktik Salat Id kemarin di area masjidil Haram terutama di lantai bawah yang berjarak, terasa mustahil untuk menjaga jarak fisik sekalipun dibatasi limit jumlah orang. Belum lagi kepadatan massa saat wukuf Arafah, mabit Muzdalifah dan Mina, serta jumrah yang lagi-lagi dengan area terbatas. Bagi Anda yang pernah melihat kondisi jamaah calhaj di tenda-tenda pasti paham kondisinya.

Terakhir, tahapan pascahaji yang menjadi waktu-waktu di mana sebagian besar jamaah terkuras tenaga secara fisik. Kondisi drop kecapaian menjadi rentan terjangkit oleh penyakit. Gangguan saluran pernapasan, heatstroke, atau Mers-COV menjadi penyakit utama yang ada, ditambah potensi dari Covid-19, tentunya hal ini tidak bisa disepelekan.

*Agung Legiarta
Jurnalis iNews, anggota Media Center Haji 2019