Gus Miftah Bertanya Kepada Hary Tanoesudibjo, Kenapa Mendirikan Partai Perindo?

Ketua Umum DPP Partai Perindo, Hary Tanoesoedibjo mengaku pernah didatangi pengasuh Pondok Pesantren ‘Ora Aji’ KH. Miftah Maulana Habiburrahman alias Gus Miftah dan saat itu ia ditanya kenapa mendirikan Partai Perindo.

“Pernah ada yang datang ke saya, saya sebut saja Gus Miftah, ngobrol-ngobrol sama saya, (Gus Miftah tanya) kenapa Partai Perindo itu ada, karena kita yakin kalau program yang kita terapkan itu dijalankan, Indonesia larinya akan kencang, karena kesejahteraan itu fondasi daripada perbaikan. Kemana-mana kalo tidak sejahtera maka masalahnya akan banyak,” ujar Hary Tanoe saat memberikan sambutan pelantikan dan HUT ke-5 Pemuda Perindo secara virtual, Rabu (31/3/2021).

Menurut Hary Tanoe, jika Indonesia mau sejahtera caranya sederhana. Pertama, dia meminta berikan privilege atau kebijakan khusus bagi masyarakat ekonomi lemah dan beri kesempatan mereka maju dulu, sehingga menghindari untuk menerapkan ekonomi demokrasi free market.

“Free market itu artinya satu kebijakan berlaku untuk semua, kita tidak mungkin yang di bawah mau maju tapi diadu dengan regulasi yang ada tidak bisa maju. Biaya terbatas, network terbatas pengalaman terbatas pasti yang besar makin besar,” ungkapnya.

“Di setiap negara yang menganut ekonomi bebas, free market yang besar makin besar yang kecil tetap di bawah. Dana bantuan membuat mereka survive tapi tidak akan membuat mereka maju, dan tidak mungkin itu dilakukan terus menerus seumur hidup,” sambung Hary Tanoe.

Karena itu, Hary Tanoe menyatakan kepada Gus Miftah bahwa masayarakat bawah harus diberikan kesempatan untuk maju dengan kelonggaran regulasi. Syaratnya, masyarakat juga harus tampil produktif.

“Jadi apa artinya, masyarakat bawah harus dibuat produktif, caranya bikin kesempatan dengan peraturan yang agak previlig, jadi contohnya untuk sektor-sektor tertentu diberikan kelongaran supaya mereka bisa maju,” katanya.

“Jangan biarkan yang besar-besar itu apalagi luar negeri masuk ke sektor mereka, kalo yang gak mau maju ya silakan salah sendiri, tapi kasih kesempatan, begitu mereka naik kelas, lepas,” ucapnya.

Kedua, sektor pendidikan perlu dimajukan. Menurutnya, masyarakat Indonesia saat masih mengalami ketertinggalan di bidang pendidikan. Dia menyebut, 28 persen masyarakat kita hanya tamatan di bawah SMA dan 40 persen tamatan di bawah SMP.

Sementara pendidikan sangat terkait dengan produktifitas dan kesempatan yang dimiliki masyarakat. Untuk itu perlu pendidikan forma maupun yang bersifat vokasi.

Di sisi lain, problem pendidikan di Indonesia juga masih terkendala dengan jumlah penduduk yang semakin bertambah. Ia mencatat, dalam setahun, angka pertumbuhan meningkat sampai 3 juta jiwa, dan angka pertumbuhan itu diprediksi meningkat hingga 9 tahun ke depan. Hary Tanoe menyarankan agar pendidikan formal dan vokasi nantinya diperkuat dengan sistem digitalisasi.

Karena itu, menurut Hary Tanoe, ini tugas partai untuk mewarnai kebijakan publik agar masyarakat bisa berkembang lebih sejahtera. “Jadi kalau ini dlakukan maka indonesia akan cepat naik kelas. Bagaimanan caranya itu, tidak ada cara lain selain melalui partai politik,” ujarnya.

“Karena apa, kata kunci cuma satu mampu membuat kebijakan atau mampu mempengaruhi pembuat kebijakan, siapa yang buat kebijakan, siapa kalo bukan parlemen dan eksekutif. Dan itu melalui proses politik, dari dulu kenapa saya garis bawahi ini, itulah kenapa ada partai perindo,” kata Hary Tanoe.

“Nah hal-hal seperti ini adalah roh daripada partai, itulah kenapa tagline kita untuk indonesia sejahtera. Kalo masyarakat kita udah sejahtera saya rasa perbedaan itu sudah tidak ada artinya lagi,” tuturnya. (Okezone.com/*)

Mungkin Anda Menyukai