DPC GMNI Ciamis Minta Masyarakat Lebih Bijak Menyikapi Krisis Palestina

  • suarapersatuan.com – Israel dan Palestina tengah menjadi pusat perhatian dunia dalam sebulan terakhir, khususnya di Indonesia.

Eskalasi krisis di Palestina kembali meningkat setelah Hamas dan Israel terlibat bersitegang. Selain konflik berkepanjangan Israel-Palestina yang sudah mengakar, serangkaian bentrokan yang terjadi sejak April 2021 menjadi pemicu memanasnya kembali situasi di negeri “Para Nabi” tersebut.
Setelah kerusuhan di Masjid Al-Aqsa pada 7 Mei 2021, konflik antara Hamas dan Israel akhirnya memuncak.
Kedua pihak saling menembakan roket yang mengakibatkan kerugian besar, khususnya di Gaza.

Ketika ditemui tim suarapersatuan.com di kediamannya, Ketua DPC GMNI Ciamis, Muhammad Galuh Firdaus menyampaikan bahwa, situasi yang kian memburuk di Palestina membuat kita semua prihatin.
Kerugian materil maupun korban jiwa dari rakyat sipil akan terus meningkat jika tidak ada langkah strategis dari seluruh negara dan organisasi Internasional untuk melakukan de-eskalasi di Palestina.

“Kita semua tahu, krisis berkepanjangan di Palestina tentu menjadi sebuah keprihatinan bagi kita semua.
Konflik ini semakin brutal ketika yang menjadi korbannya adalah rakyat sipil. Apapun alasannya tidak dibenarkan membunuh rakyat sipil dalam sebuah konflik militer.
Jika tidak ada upaya de-eskalasi dari semua pihak, konflik ini berpotensi menjadi konflik berskala global yang mematikan”, ucap Galuh. Rabu (19/5/2021)

Dalam kesempatan tersebut pun Galuh yang akrab disapa Bung Galuh berharap Indonesia, DK PBB, OKI dan negara-negara berpengaruh lainnya berperan aktif mendorong pihak yang bertikai untuk saling menahan diri dan membawa penyelesaian krisis ini ke meja perundingan.

“Saya berharap besar pada DK PBB, OKI dan negara-negara berpengaruh khususnya Turki, AS, Britania Raya, Rusia menggunakan pengaruhnya untuk mendorong Israel dan Hamas melakukan gencatan senjata dan kembali ke meja perundingan untuk menyelesaikan krisis ini dengan mengedepankan dialog damai.
Besar pula harapan kami pada pemerintah Indonesia untuk mengambil peran aktif melalui OKI dan Asean dalam upaya perdamaian di Palestina, karena konstitusi sudah jelas mengamanatkan bangsa ini untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”, Jelas Galuh.

“Khusus Mesir kami melihat posisi yang amat krusial, di satu sisi Rafah Gate menjadi jalur vital dalam distribusi pangan dan obat-obatan ke Gaza, Rafah Gate pun mempunyai potensi besar masuknya senjata ilegal ke Gaza yang dapat menghambat proses de-eskalasi jika tidak diperketat pengawasannya”, Imbuh Galuh.

Disisi lain, konflik ini pun berpotensi dimanfaatkan oleh kelompok ekstrimis yang mengatasnamakan agama untuk dijadikan momentum menghidupkan kembali isu khilafah yang dikhawatirkan berpengaruh terhadap stabilisasi politik dalam negeri.

“Saya pun melihat momentum ini disisi lain menjadi sebuah peluang bagi kelompok ekstrimis untuk kembali melakukan propaganda teori representasi dengan mengatasnamakan agama melalui demonstrasi-demonstrasi, medsos, ornamen-ornamen, bendera maupun instrumen lainnya.
Bahkan akhir-akhir ini mulai banyak beredar foto dan video yang sebenarnya adalah korban konflik di suriah dan Yaman diubah judul foto dan videonya yang seolah-olah itu adalah korban konflik di Palestina yang mengatasnamakan Agama”, terang Galuh.

Konflik berkepanjangan di Palestina menjadi konflik abadi yang sangat rumit.
Maka masyarakat perlu lebih objektif dalam melihat konflik ini dari sisi yang lebih luas.

“Ketika kita melihat konflik di Palestina, terlalu naif rasanya jika kita melihat dari satu sisi saja dengan mengesampingkan sisi lainnya.
Ini adalah konflik yang mengakar dan sangat rumit, maka kita harus bijak melihatnya.
Kita tidak bisa menilai bahwa konflik ini adalah sebatas konflik agama saja, tidak bisa pula kita menilai konflik ini hanya sebatas konflik ras saja.
Namun saya melihat, sejak runtuhnya Ottoman di Perang Dunia I, kita dapat mengamati secara jelas Yahudi, Zionisme, Fatah, Hamas.
Dan kita dapat melihat sebesar apa peran Britania Raya menggunakan legitimasi mandat yang diberikan Liga bangsa-bangsa dalam melangengkan konflik ini dan membidani lahirnya Israel melalui Deklarasi Balfour, hasil perselingkuhan Arthur Balfour dengan Walter Rothschild”, tandas Galuh.

Mungkin Anda Menyukai