DPC GMNI Ciamis Gelar Virtual Discussion Mitigasi Bencana

Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kabupaten Ciamis menggelar Diskusi Publik dengan tema “Peran Pemuda Dalam Mitigasi dan Tanggap Darurat Kebencanaan” pada juma’t (05/02/21).

Diskusi yang dilakukan via aplikasi Zoom tersebut menghadirkan beberapa pembicara antaralain, Dosen Ahli Kebencanaan Yaman Suryaman S.E.,M.Si.,PhD, Ketua DPP GMNI Bung Arjuna Putra Aldino, Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga DPD GMNI Jawa Barat Bung Arif Hanbal dan juga Keynote Speech Abdy Yuhana SH.,MH selaku Ketua PA GMNI Jawa Barat sekaligus anggota komisi III DPRD Provinsi Jawa Barat.
Kegiatan yang digelar via daring tersebut diikuti juga oleh berbagai elemen masyarakat seperti mahasiswa, pelajar, tokoh pemuda dan beberapa komunitas di Jawa Barat.

Tujuan diselenggarakannya zoom meeting ini sebagai upaya memberikan edukasi maupun gambaran kepada masyarakat khususnya pemuda terkait manajemen, mitigasi, tanggap darurat dan rehabilitasi kebencanaan.

Dalam pembukaan diskusi tersebut Abdy Yuhana SH.,MH menyampaikan melalui perwakilannya Sarinah Deby, bahwa pentingnya pemuda menguasai peta potensi bencana di Indonesia.
“Pemuda memiliki posisi strategis dan menentukan dalam upaya pencegahan maupun penyelesaian persoalan-persoalan bangsa, salah satunya dalam hal kebencanaan”, terang Sarinah Deby.

Menurut World Risk Index 2019, Indonesia berada di peringat 37 dari 180 negara di dunia yang memiliki resiko bencana tinggi. Adapun kebijakan dan strategi RIPB (Rencana Induk Penanggulangan Bencana) 2020-2044 meliputi enam poin, di antaranya yaitu penguatan Rancangan Undang-Undang Penanggulangan Bencana (RUU PB) yang efektif dan efisien, peningkatan sinergi antar pemangku kepentingan, penguatan investasi pengelolaan risiko bencana dengan memperhatikan tata ruang dan kawasan.

Yaman Suryaman S.E.,M.Si.,PhD sebagai pembicara menjelaskan bahwa bencana dapat dikatakan hampir tidak ada jika masyarakat mampu memahami konteks kebencanaan secara eksplisit.
Karena seringkali masyarakat menjadikan alam sebagai faktor tunggal alasan terjadinya bencana tanpa melihat sejauh mana masyarakat menjaga lingkungannya, memahami topografi dan kesiapan masyarakat dalam kebencanaan.
“Bencana itu tidak ada, yang ada adalah buruknya kemampuan kita dalam manajemen bencana”, tandas akademisi yang mendapatkan gelar S3 nya di Liverpool, Inggris ini.

Penguatan dalam hal tata kelola dan manajemen penanggulangan bencana yang profesional dan akuntabel harus diikuti pula dengan peningkatan kapasitas dan kapabilitas penanganan kedaruratan bencana yang cepat dan handal, dan juga percepatan pemulihan pascabencana pada daerah dan masyarakat terdampak.

Ketua DPP GMNI, Bung Arjuna Putra Aldino dalam kesempatannya menyampaikan melalui perwakilan DPP GMNI Bung Musa, bahwa dengan melakukan penyadaran kepada masyarakat akan besarnya potensi bencana di Indonesia itu dapat dilakukan melalui hal-hal kecil.
“Budaya guyub dan gotong royong yang dimiliki bangsa ini tentu memudahkan kita untuk mensosialisasikan pentingnya kesadaran akan potensi bencana”, ucap Bung Musa.

Lalu dalam kesempatan diskusi ini Bung Arif Hanbal sekaligus pembicara diskusi menjelaskan bahwa pemuda perlu ikut mengawal tahap perumusan atau penyusunan regulasi yang dilakukan pemerintah.
“Mahasiswa atau pemuda sebagai agent of change dan agent of control perlu ikut mengawal dan mengawasi setiap langkah pemerintah dalam perancangan, perumusan maupun penerapan kebijakan pemerintah terkait mitigasi, tanggap darurat dan rehabilitasi kebencanaan.
Bab distribusi anggaran yang rentan dan seringkali menjadi faktor polemik dalam sebuah kebijakan, dapat benar-benar terserap secara efisien sesuai peruntukannya jika mahasiswa ikut mengawasi”, jelas aktivis GMNI asal garut ini.

Ketua DPC GMNI Kabupaten Ciamis, Muhammad Galuh Firdaus atau yang akrab disapa Bung Galuh menyampaikan bahwa pentingnya peran pemuda memahami persoalan-persoalan kebencanaan dan perlunya sinergitas antara pemerintah dengan seluruh elemen masyarakat dalam penanggulangan bencana maupun dampaknya.

“Indonesia yang secara geografis terletak di Ring of Fire tentu mempunyai potensi ancaman maupun resiko bencana yang amat besar.
Maka dari itu dirasa penting bagi masyarakat khususnya pemuda memiliki kemampuan menganalisis, memahami manajemen Kebencanaan dan menganalisis dampak primer maupun sekundernya.
Dan hal ini sudah tentu menjadi tanggungjawab bersama, dengan kata lain pemerintah pun perlu merumuskan regulasi yang terukur terkait Rencana Tata Ruang Wilayah dengan berbasis mitigasi bencana”, terang mahasiswa Fakultas Hukum salahsatu Universitas di Ciamis.

Adapun harapan besar dari DPC GMNI Ciamis kepada DPD GMNI Jawa Barat maupun DPP GMNI untuk ikut ambil bagian dan lebih konsen dalam upaya memecahkan persoalan pelik terkait kebencanaan.
“Saya pun menginginkan DPP GMNI secepatnya agar dapat memasukan, merumuskan dan menerapkan materi mengenai Lingkungan Hidup kedalam silabus kaderisasi GMNI, yang kemudian hal tersebut sedikitnya mampu menjadi bagian dari problem solving bangsa ini dalam memahami roadmap potensi bencana di negeri ini”, tambah Bung Galuh.
(Fahmi)

Mungkin Anda Menyukai