Dirgahayu Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia Ke 66

Merdeka…!!!

Pada hari ulang tahun (HUT) RI ke- 21 yakni 17 Agustus 1966, Presiden Soekarno menyampaikan pidatonya di hadapan rakyat Indonesia yg diberi judul “Never leave history”, Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.

Pasang naik dan pasang surutnya gerakan dan perjuangan GmnI bersama rakyat harus tetap menjadi spirit bagi kader GmnI hari ini. Pengalaman pahit masa lalu yg pernah dialami oleh korps GmnI harus menjadi cambuk agar secara tegas menyatakan kepada publik bahwa GmnI tetap setia menjaga Pancasila sebagai ideologi negara, Undang-undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai rumah bersama dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan yg merpersatukan seluruh bangsa Indonesia.

Berbagai stereotip yg disematkan kpd GmnI di rezim orde baru harus menjadi api yg terus menyulut semangat para kaum nasionalis dalam mungukuhkan komitmen dan konsistensinya sebagai organisasi yg berpaham kebangsaan serta memiliki tugas dan tanggungjawab sejarah dalam merawat persatuan dan menjaga keutuhan bangsa dan negara Indonesia.

Disadari maupun tidak, waktu terus berubah mengiringi derap langkah dan dinamika perjuangan para Marhaenis. Rumah bersama yg bernama Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia menginjak usianya yg ke- 66 tahun. Tentu ini bukanlah usia yg singkat. Lahirnya GmnI pd 23 Maret 1954 merupakan bukti rasa cinta para tokoh pendiri bangsa pada persatuan nasional. Gerakan Mahasiswa Merdeka, Gerakan Mahasiswa Marhaenis dan Gerakan Mahasiswa Demokrat Indonesia sebagai organisasi yg menganut azas Marhaenisme ajaran Bung Karno memilih melakukan fusi menjadi satu, membentuk wadah baru dgn nama Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GmnI) pd Kongres I yg berlangsung di Surabaya.

Pada kesempatan yg berbahagia ini, kita patut mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena kita sadar dan meyakini dgn sungguh2 bahwa melalui tuntunan Tuhan pula lah yg mampu menghantarkan GmnI hingga usianya yg ke-66 tahun ini.
“Dharma Eva Hato Hanti”, kuat karena bersatu, bersatu karena kuat. 66 tahun telah berlalu meninggalkan rekam jejak yg tak terlupakan dalam bingkai perjuangan bersama merawat NKRI.

Marhaenisme sebagai azas dan cara perjuangan yg progresif-revolusioner untuk mewujudkan sosialisme Indonesia, masih dipegang teguh oleh seluruh korps GmnI. Dibawah motto pejuang pemikir — pemikir pejuang, setiap Kader GmnI senantiasa setia berjuang untuk memenuhi tujuan suci Proklamasi serta cita2 nasional bangsa dan negara Indonesia yg tercantum di dalam pembukaan UUD 1945. Hingga hari ini, GmnI masih tetap konsisten menjaga Pancasila sebagai ideologi negara dan Sosialisme Indonesia sebagai tujuan akhir perjuangan nasional bangsa Indonesia. Sosok Bung Karno sebagai tokoh sentral gerakan terus menjiwai roh dan semangat perjuangan para kader GmnI. Ajaran dan pemikiran Bung Karno pula yg selalu menjadi dasar pijak dan metode berpikir bagi para Marhaenis dalam menentukan sikap dan mengambil tindakan menghadapi badai zaman yg selalu meniscayakan setiap persoalan bagi bangsa dan negara.

Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia sebagai organisasi kader dan organisasi perjuangan, dgn Marhaenisme sebagai azas dan cara perjuangannya, telah menyatukan tekad untuk berjuang bersama rakyat hingga terwujudnya masyarakat yg tata-tentram kerta raharja, yaitu masyarakat adil dan makmur tanpa exploitation de l’homme par l’homme dan exploitation de nation par nation. Ini bermakna bahwa tujuan perjuangan GmnI ialah terciptanya susunan masyarakat dan negara tanpa penindasan manusia atas manusia dan tanpa penindasan bangsa atas bangsa.
Bagi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GmnI), ideologi kapitalisme, imperialisme dan kolonialisme apapun bentuknya tetap menjadi musuh bersama yg harus dilenyapkan dari tanah air Indonesia dalam bentuk perjuangan nasional secara gotong-royong.

Kehadiran para kaum kapitalis dan imperialis di bumi pertiwi Indonesia dgn janji akan memberikan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia hanyalah sebuah janji manis yg terselubung topeng penjajahan dan misi ingin mengeksploitasi sumber daya alam dan manusia Indonesia. Karena watak dari kapitalis yg serakah (rakus) maka ekspansi untuk memperluas wilayah kekuasaan (pasar) adalah salah satu jalan untuk melipatgandakan modalnya (capital accumulation) yg tiada batas dan sebagai cara mencegah terjadinya peningkatan hasil produksi yg berlebihan (over production) krn tdk mampu diserap lagi oleh pasar di dalam negeri sendiri. Oleh krn itu, GmnI menjadi garda terdepan dan menjadi pelopor dlm mengorganisir kekuatan massa rakyat melawan segala bentuk neokapitalisme dan neoimperialisme termasuk kapitalisme oleh bangsa sendiri.

Tantangan bagi GmnI tdk akan pernah berakhir. Tantangan selalu muncul pd setiap ruang dan waktu selaras dgn perkembangan peradaban manusia secara nasional maupun global.

“Revolusimu Belum Selesai”. Ungkapan Bung Karno inilah yg selalu menjadi dorongan bagi jiwa dan raga setiap insan nasionalis agar terus menggelorakan semangat perjuangan tanpa henti. Kalimat yg membakar roh perjuangan ini pula lah yg terus menghantarkan para kader GmnI untuk memberanikan diri menyelam lebih dalam ke bara apinya perjuangan bersama rakyat untuk menunaikan tugas suci revolusi.
Secara kuantitas, jumlah anggota dan kader GmnI di seluruh Nusantara telah mencapai jutaan. Namun tantangan internal maupun eksternal bagi bangsa dan negara pun selalu datang silih berganti dgn berbagai corak dan ciri khas yg berbeda.

Dengan memasuki Usianya yg ke-66 tahun ini semoga Api perjuangan GmnI terus berkobar-berkobar dalam mewujudkan Sosialisme Indonesia. Dan Spirit para Anggota maupun kader tdk pernah redup dalam memperjuangkan masyrakat marhaen Indonesia terutama di wilayah GmnI berada.

GmnI Jaya…!!!
Marhaen Menang…!!!

*Firan Marhaen