Bung Karno Penggali Pancasila

Gagasan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak muncul seketika dan tuntas pada pada waktu yang singkat. Sejarah konseptualisasi Pancasila melintasi rangkaian panjang dimulai dari fase pembibitan, kemudian perumusan, dan akhirnya pengesahan. Setiap fase melibatkan partisipasi berbagai unsur dan golongan. Itulah sebabnya, Pancasila merupakan karya bersama milik bangsa.

Prof. Dr. Asvi Warman Adam, Profesor Riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), menjelaskan bahwa memang tak bisa dipungkiri bahwa dalam karya bersama itu ada beberapa individu yang memainkan peran penting. Dalam hal ini, individu dengan peran paling menonjol sebagai penggali Pancasila ialah Soekarno, yang dikenal sebagai darah dan daging Pancasila.

Asvi Warman menekankan, Bung Karno merupakan sosok yang paling fenomenal sebagai seorang penggali Pancasila, karena ia menemukan semua sila-silanya sebagai hasil kontemplasi ketika berpikir tentang tanah air Indonesia.

“Kalau digunakan istilah pencetus, mungkin itu suatu ide yang datang tiba-tiba. Kenapa disebut penggali? Karena Bung Karno sudah memikirkan soal Pancasila bertahun-tahun, ada yang bilang sejak beliau dibuag di Ende, atau bahkan jauh sebelumnya,” jelas Asvi Warman di kanal Youtube Badan Kebudayaan Nasional Pusat PDI Perjuangan, Minggu 6 Juni 2021 .

Namun, perjalanan Pancasila hingga penetapan hari lahirnya sebagai hari nasional tak semulus yang dibayangkan. Ada beberapa perdebatan yang cukup mewarnai sejarah Indonesia sampai saat ini. Di masa Orde Baru, ada upaya-upaya yang digunakan untuk mengecilkan peran

“Ini karena pada Orde Baru ada upaya ‘Desoekarnoisasi’, yakni upaya untuk menghilangkan peran Soekarno. Saat itu, dikatakan bahwa ada orang lain yang sudah berpidato sebelum Soekarno tentang Pancasila, yaitu Muhammad Yamin,” papar Asvi Warman.

Upaya ‘Desoekarnoisasi’ menjadikan Soekarno bukan penggali Pancasila secara sistematis dilakukan lewat tokoh sejarah militer Orde Baru yang kemudian menjadi Menteri Pendidikan dan kebudayaan, Nugroho Notosusanto. Dalam buku ‘Naskah Proklamasi yang Otentik dan Rumusan Pancasila yang Otentik’, Nugroho Notosusanto menekankan bahwa Pancasila adalah gagasan Yamin.

Beberapa tahun kemudian, Nugroho menulis buku lagi berjudul ‘Proses Perumusan Pancasila Dasar Negara’ (1985) yang menegaskan bahwa Dr. Soepomo telah lebih dulu juga berbicara tentang dasar negara daripada Bung karno

“Menurut saya, dua hal itu tidak tepat. Karena apa yang disampaikan Yamin pada 29 Mei 1945 kemungkinan merupakan sesuatu yang ditulis jauh sesudah proklamasi dalam bukunya yang diterbitkan kemudian. Sementara pada 29 Mei itu sendiri, Yamin berpidato amat singkat,” urai Asvi Warman.

Sementara terkait dalil Soepomo dan Pancasila, Asvi mengungkapkan bahwa Soepomo bukan berbicara tentang dasar negara, melainkan syarat-syarat berdirinya sebuah negara, yakni adanya wilayah, penduduk dan pemerintahan.

“Sedang yang berbicara tentang dasar negara menjawab pertanyaan Ketua BPUPK Radjiman Wedyodiningrat ya Bung Karno,” jelas Asvi Warman.

Meski demikian, menurut Asvi bahwa hal yang paling penting di masa sekarang adalah bagaimana mengaplikasikan Pancasila dalam konteks kekinian. Perdebatan tentang penggali Pancasila sudah final dan dibuktikan sejarah, bahwa Bung Karno adalah orang yang pertama kali berbicara Pancasila dalam sidang BPUPKI.

Bahkan sejak 2016, Presiden Joko Widodo pun telah menetapkan 1 Juni sebagai Hari Kelahiran Pancasila melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 24 Tahun 2016 tentang Hari Lahir Pancasila. Dalam hal ini, bangsa Indonesia secara resmi dan politis memperingati hari terbentuknya dasar negara.

“Seyogyanya tak ada lagi perdebatan tentang hal ini. Hari 1 Juni ditetapkan sebagai Hari Lahir Pancasila dan 18 Agustus sebagai Hari Konstitusi,” pungkas Asvi Warman.

Mungkin Anda Menyukai