Politik Perempuan : Smart, Peduli Dan Mandiri

“Buta yang terburuk adalah buta politik, dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, semua tergantung pada keputusan politik. Orang buta politik begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik. Si dungu tidak tahu bahwa dari kebodohan politiknya lahir semua pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasional” (Bertolt Bracht, penyair Jerman)

Kata bijak diatas jelas menjadi tamparan bagi kita semua yang ternyata masih memandang politik hanya sebatas kekuasaan saja. Karena sesungguhnya politik  memiliki makna sebagai keberpihakan kepada kepentingan bersama. Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara kita jelas merasakan betul bahwa ”kebijakan politik” lah yang sesungguhnya mengatur kehidupan kita sebagai warga negara.

Oleh karenanya, tulisan ini sengaja dibuat khusus untuk perempuan – perempuan Indonesia yang sejatinya adalah “kaum” pertama yang merasakan dampak dari sebuah kebijakan politik. Sebagai contoh, jika pemerintah mengeluarkan kebijakan terkait harga kebutuhan pokok hingga ketentuan biaya tarif dasar listrik maka perempuanlah yang pertama merasakan dampak dari kebijakan tersebut.

Pengakuan terhadap peran perempuan dalam membangun tata kelola kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai dengan pancasila dan UUD 1945 jelas diakui keberadaanya. Adanya “persentase” khusus keterwakilan perempuan jelas pula membuktikan bahwa perempuan juga memiliki kewajiban dan hak yang sama tanpa mengurangi sedikitpun kodratiahnya.

Perempuan memiliki intelegensi yang sangat sempurna karena mampu mengkombinasikan logika berfikirnya dengan kepekaan hatinya. Kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. Intelegensi perempuan yang tercermin pada logika berfikirnya jelas menegasikan bahwa perempuan memiliki pola pikir dan semangat juang yang smart, peduli dan mandiri sehingga keberadaanya menjadi kekuatan utama dalam pembangunan bangsa dan negara.

Dan kamu, kamu wanita Indonesia, akhirnya nasibmu adalah di tangan kamu sendiri. Saya memberi peringatan kepada kaum laki-laki itu untuk memberi keyakinan kepada mereka tentang hargamu dalam perdjoangan, tetapi kamu sendiri harus menjadi sadar, kamu sendiri harus terjun mutlak dalam perjuangan ( Soekarno, 1963:320 )

Hari ini, jelang pelaksanaan pesta demokrasi rakyat yang disebut pemilihan umum ( pemilu ) peran perempuan kembali menjadi penentu keberhasilan gelaran pesta demokrasi rakyat tersebut. Adanya 30% keterwakilan perempuan jelas membuktikan bahwa perempuan bukan hanya sebagai angka pelengkap sistem demokrasi kita saat ini karena persentase tersebut adalah bentuk dari legitimasi negara. Hasil-hasil penelitian para akademisi di negara-negara yang sudah mapan demokrasinya menunjukkan bahwa menjadi 30 persen dari total anggota suatu institusi politik seperti DPR mampu memberikan posisi tawar menawar (bargaining positions) yang kuat bagi suatu kelompok untuk memenangkan aspirasinya. Angka 30 persen inilah yang disebut dengan ‘critical mass’, sebuah angka psikologis.

Berhimpunlah perempuan Indonesia dalam satu barisan perjuangan rakyat, menyatulah dengan rakyat karena sejatinya perempuan adalah peduli dan memberi solusi.

 

Budhiyanti Rachman Spd,AUD

Kader Perempuan Demokrat Kota Tangerang Selatan

 

 

Subscribe

Berlangganan Suara Persatuan? masukan email anda!