Kekuasaan Dan Cita Cita Kaum Muda

“Berikan Saya 10 Orang Pemuda Yang Memiliki Semangat Berkobar-kobar dan Revolusioner, maka Aku Akan Guncang Dunia” (Bung Karno,1950)

MERUBAH DUNIA adalah soal semangat, keberanian dan kecerdasan. Begitulah kira-kira di benak kepala Bung Karno tentang kaum muda dan cita-citanya terhadap perubahan yang mendasar tentang tatanan masyarakat yang berkeadilan.

Kita sering temukan jenis-jenis cara berfikir seperti ini, orang tua berfikiran lama/tua, orang tua berfikiran maju/baru, orang muda berfikiran maju/baru, dan ada lagi, orang muda berfikiran tua/lama. Inilah kenyataan cara berfikir yang dimiliki oleh masyarakat kita. “Orang tua bicara sejarah, Anak muda tentukan arah”. Adalah pola pikir dan semangat juang yang harus dimiliki oleh generasi muda dalam setiap usaha mewujudkan cita – citanya.

Keterlibatan pemuda dalam membangun tata kelola kehidupan berbangsa dan bernegara harus dibuktikan dengan kehadiranya dalam ruang kebijakan publik, menurut para pemikir dan pemerhati politik, kekuasaan dimaknai sebagai alat ataupun sarana untuk mencapai cita-cita. Ide, gagasan, apalagi ideologi menjadi sulit diterapkan jika tanpa dibumikan melalui kekuasaan (kewenangan yang dimiliki). Begitu juga kekuasaan tanpa diilhami dan dipedomani menjadikan ide, gagasan dan ideologi hanya akan memunculkan kekuasaan yang pragmatis ataupun kepentingan sesaat saja.

Permasalahan kompleks yang sedang dihadapi masyarakat saat ini, setidaknya dapat menjadi cermin bahwa harapan akan perbaikan dan perubahan yang mendasar menjadi keinginan masyarakat secara kolektif (bersama) terbebas dari kepentingan elit yang hanya mampu berretorika pada sejarah masa lalu yang diwariskan generasi tua.

Hadirnya pemuda dalam ruang publik diharapkan mampu menjadi kekuatan inti dalam setiap usaha mewujudkan kesejahteraan bersama. Ide dan gagasan generasi muda harus menjadi sarana untuk merubah struktur sosial ekonomi dan politik yang dilakukan melalui kebijakan negara, yang dalam hal ini ada di dalam kekuasaan, baik legislatif dan eksekutif. Meskipun pendekatan kulturpun perlu dilakukan sebagai salah satu sarana lainnya.

Dalam konteks ini maka keberadaan kaum muda dapat dibicarakan secara lebih mendalam. Ada 2 hal yang dapat dijadikan bahan perbincangan, pertama sebagai sosok ataupun performance seorang kader muda, dalam rangka membangun apresiasi/respons publik, yang kedua, soal ide-ide dan gagasan akan suatu kebijakan politik yang lebih mendasarkan perubahan secara mendasar. Asumsinya tidak dengan cara pandang yang lama, tetapi dengan cara pandang yang baru, maju dan tentunya konstruktif membangun yang dipedomani oleh nilai-nilai perjuangan yang berpihak.

Kemauan politik generasi muda saat ini amatlah rendah sehingga perilaku politik dan tindakan politiknya tidak tersalurkan. Pola hidup generasi muda saat ini yang jauh dari spirit pancasila menjadi sebab tumbuh kembangnya pragmatisme dan hedonisme dalam kehidupan generasi muda, oleh karenanya sudah sepatutnya generasi sekarang untuk mereaktualisasikan kembali Pancasila menjadi ideologi dan mampu membuktikan secara nyata serta konkret akan tujuan dan visi mulianya pancasila sebagai landasan berbangsa dan bernegara.

Memasuki tahun politik 2019 kehadiran pemuda dalam kontestasi politik sangat diperhitungkan,hadirnya tokoh muda dihampir semua partai politik membuktikan bahwa pemuda hari ini telah siap menentukan arah perjuangan bangsa,pemuda telah siap mengaktualisasikan ide dan gagasan politiknya hanya untuk kepentingan rakyat Indonesia. Majulah pemuda Indonesia karena sejatinya pemuda adalah anak kandung rakyat.

Musa al as’ari

Subscribe

Berlangganan Suara Persatuan? masukan email anda!