Energi Asia

PADA bulan-bulan ini kita menikmati musim pertandingan olahraga tingkat nasional, regional, dan internasional. Liga 1 sepak bola Indonesia, kemudian Piala Dunia, dan pada 18 Agustus hingga 2 September kita akan menjadi tuan rumah pelaksanaan Asian Games 2018.

Semua mata penggemar olahraga di seluruh Asia dan dunia akan tertuju ke Indonesia. Mereka akan disuguhi 462 acara pertandingan pada 40 cabang olahraga yang diikuti peserta dari 45 negara. Salah satu cabang olahraga baru yang dipertandingkan kali ini adalah pencak silat. Sebagai tuan rumah, Indonesia memang berhak menambahkan tiga cabang olahraga baru di Asian Games 2018. Pencak silat dipilih karena ini olahraga asli Indonesia.

Pencak silat termasuk 10 Objek Pemajuan Kebudayaan Indonesia yang termaktub dalam Undang-Undang Pema juan Kebudayaan (UU Nomor 5/2017) dalam kategori Olahraga Tradisional. Ajang olahraga empat tahunan kali ini mengusung tema: Energy of Asia atau Energi Asia.

Semangat ini terwakili dalam “matahari” di tengah logo Asian Games bergambar Stadion Utama Gelora Bung Karno. Jiwa “Energi Asia” sendiri tertanam dalam keragaman budaya, bahasa, dan sejarah ke-45 negara peserta, yang menyatu bersama menciptakan energi kuat meningkatkan semangat kemajuan dalam suasana persahabatan dan sportivitas.

Energi Asia dipilih sebagai moto untuk membangkitkan semangat pembangunan di segala bidang secara merata di Asia. Para peserta tak hanya mempertontonkan kehebatan capaian mereka di bidang olahraga, tapi diharapkan ikut menggelorakan obor peradaban maju di Asia.

Kita tahu, Jepang sudah lebih dulu diakui dunia berkat teknologinya. Kehebatannya diikuti Korea Selatan, Taiwan, Hong Kong, India, Singapura, dan belakangan China. Kemajuan begitu fenomenal dicapai China hingga diprediksi akan menjadi raksasa ekonomi dunia pada 2020 mengalahkan Amerika Serikat.

Pertanyaan mampukah Asia menyaingi Barat yang diajukan Kishore Mahbubani dalam Can Asians Think (2009) tampaknya terjawab, “bisa!” Guru besar dan mantan diplomat Asia ini pun mengurai fenomena kebangkitan negara-negara Asia dan membandingkannya dengan Barat. Asia memiliki “energi” besar untuk maju.

Mahbubani mencatat, ledakan ekonomi terjadi di Asia berkat kecerdasan dan kerja keras, suatu modal yang juga menentukan keberhasilan di olahraga. Ekonomi Asia tumbuh lebih cepat dan konsisten dibanding kelompok regional negara lain di dunia sejak 1960 hingga 1990.

Pertumbuhan per kapita rata-rata negara Asia mencapai 5,5%, mengalahkan performa Amerika Latin dan subsahara Afrika. Pada masa lalu, di awal modernisasi para tokoh negara Asia bekas jajahan, seperti Jawaharlal Nehru dan Sun Yat Sen berkesimpulan bahwa untuk mengejar ketertinggalan, kita hanya perlu mengikuti Barat. Namun, kini Asia tak lagi melihat Barat sebagai contoh yang mesti ditiru dan diteladani.

Di Asia muncul semangat baru untuk menghubungkan kembali dirinya dengan masa lalu, mengikat kembali tali yang terputus sejak masa kolonial, dan dominasi pandangan dunia Barat.

Semangat baru itu menjadi energi yang sangat diperlukan oleh orang-orang Asia dalam upaya mereka menemukan keseimbangan antara dunia global dengan akar dan kesadaran tentang identitas leluhur mereka. Itulah upaya mendefinisikan identitas personal, sosial, dan nasional yang sejalan dengan bangkitnya rasa percaya diri mereka dalam percaturan dunia yang saling terkoneksi di era teknologi informasi saat ini.

Beberapa negara Asia telah mencapai standar taraf kehidupan tinggi tanpa harus mengikuti Barat. Ambil contoh China dan Singapura yang dalam tata kelola pemerintahan tidak menerapkan demokrasi liberal, tapi menjalankannya dengan sistem meritokrasi.

Tata kelola pemerintahan yang baik tak harus mengikuti cara Barat dengan demokrasi liberalnya. Asia punya caranya sendiri tanpa harus terjebak dalam arus pemikiran Barat. Kita di Indonesia harus merespons secara positif energi dan semangat baru yang muncul di Asia tersebut.

Indonesia yang secara global sudah mencapai tahapan baik dalam hal-hal tertentu, terutama proses demokratisasinya yang terus membaik, sudah saatnya membenahi persoalan-persoalan mendasar lainnya, seperti masalah kesenjangan sosial dan ekonomi, kemiskinan, pelayanan publik dan jaminan sosial, ketersediaan lapangan kerja, korupsi dan oligarki, serta lebih utama lagi di bidang pendidikan.

Pasalnya, kemajuan yang dicapai negara-negara Asia Timur dan rasa percaya diri yang mereka miliki, didorong oleh capaian performa akademik warganya yang mengagumkan. Para pemain olahraga berbakat menjadi hebat setelah dibina dengan baik dan penuh disiplin di tempat-tempat pelatihan khusus. Banyak mahasiswa terbaik yang dihasilkan perguruan tinggi di Amerika berasal dari Asia. Lebih dari separuh mahasiswa asing di AS berasal dari Asia.

Tak aneh bila banyak perusahaan multinasional merekrut dan melatih talenta berbakat dari Asia. Indonesia dapat mencontoh bagaimana negara-negara sesama Asia, seperti Jepang, Korea, dan Singapura meningkatkan taraf pendidikan mereka.

Negara-negara ini terus menggenjot tingkat pendidikan mereka hingga melahirkan ahli-ahli terbaik di bidang masing-masing. Tak terkecuali di bidang-bidang olahraga. Kita dapat meneladani bagaimana negara-negara itu meningkatkan skala pertumbuhan sekaligus menaikkan standar kehidupan rata-rata masyarakat melalui peningkatan pendidikan mereka.

Demikian adanya, dengan ilmu hidup kita akan lebih meningkat, dengan agama hidup kita akan lebih bermakna, dengan teknologi hidup kita akan lebih berwarna, dan dengan budaya hidup kita akan lebih menawan.*


Nadjamuddin Ramly
Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Kemendikbud RI

*Artikel ini telah tayang di Koran SINDO

Subscribe

Berlangganan Suara Persatuan? masukan email anda!