Naik Vespa Lawas, Pria Ini Nekat Mudik dari Aceh ke Brebes

Pemudik dapat memilih beragam moda transportasi untuk kembali ke kampung halaman. Salah satu yang masih diminati pemudik antar pulau ialah kapal laut.

Wage, pemudik asal Brebes, Jawa Tengah, misalnya, menumpang kapal feri dari Pelabuhan Bakauheni, Lampung, seraya membawa sepeda motor vespa. Dia mengendarai sepeda motor lawas itu dari Provinsi Aceh.

“Pokoknya mulai tanggal 31 Mei 2018 (berangkat dari Aceh) dan ini sudah tanggal 10 Juni, jadi sudah 10 hari perjalanan,” cerita Wage kepada wartawan di Lampung, Robert seperti dikutip suarapersatuan.com dari BBC Indonesia, Rabu (13/6/2018).

Saat menumpang kapal Nusa Dharma menuju Pelabuhan Merak Banten, Minggu 10 Juni, Robert berkisah perjalanannya menelusuri dari ujung barat hingga timur Sumatera dengan vespa.

Pria yang kesehariannya di Aceh sebagai kuli bangunan ini mengaku sempat beberapa kali mengalami pecah ban dan mesin motor mati. “Kejadiannya di Gunung Geurutee Aceh Jaya. Di situ saya mengalami pecah ban, jatuh sekitar jam 12 malam lah,” kata Wage.

Di tengah kepanikan karena berada di tengah hutan dan tidak memiliki alat penerangan sama sekali, Wage merasa bersyukur karena masih ada orang yang menolong. “Alhamdulillah bisa tertolong. Kebetulan ada orang melintas, dia bawa mobil, terus dia bersedia bantu saya untuk penerangan. Karena posisinya kan di hutan gelap,” ceritanya.

Tidak berhenti sampai di situ, vespa keluaran tahun 1980-an milik Wage kembali mengalami kendala di daerah Lamno Aceh dan berbagai tempat lain di jalur yang dilintasi.

“Setelah itu jatuh di daerah Lamno, pecah ban lagi. Pokoknya dalam satu hari kalau tidak salah lima kali,” papar pria yang mengaku sudah tiga kali mudik ke kampung halamannya menggunakan sepeda motor.

Saat menyeberangi Selat Sunda, Wage mengatakan pengalaman menumpang kapal laut dari Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan, menuju Pulau Jawa, tidak banyak berubah selama beberapa tahun terakhir.

“Kalau kondisi kapal ya nggak ada perubahan, karena kapalnya kan memang kapal yang dulu-dulu kan. Alhamdulillah sih nyaman, pelayanannya juga,” katanya.

Berbeda dengan penuturan Wage, Saifullah yang sedang mudik menuju Bengkulu merasa kurang nyaman menggunakan moda transportasi kapal laut.

Menurut Saifullah, dirinya bersama istri dan dua anaknya tidak kebagian tempat duduk sehingga harus duduk di dek kapal dan mesti merogoh kocek sebesar Rp10.000 untuk sewa tikar. Itu belum termasuk harga tiket senilai Rp15.000 untuk orang dewasa dan Rp8.000 untuk anak.

“Menurut saya untuk sekarang ini kondisi kapal kayaknya kurang begitu nyaman, masalahnya untuk safety handrail itu masih masuk anak-anak kecil. Khawatirnya kalau orang tua lengah, anak kecil bisa kecebur ke laut,” tuturnya.

“Kami minta layanan diperbaiki, biar penumpangnya merasa nyaman. Kasihan juga sih para pemudik kayak gini juga, kayak terlantar gitu,” sambungnya.

Jelang Idul Fitri, PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry (Persero) Cabang Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan, mengerahkan 63 unit kapal untuk mengangkut pemudik.

“33 unit kapal berukuran sedang dan besar akan disediakan bila lonjakan penumpang sudah mulai padat. Kalau sangat padat, maka ASDP akan menaikan jumlahnya menjadi 36 unit kapal berukuran besar,” kata Kepala PT ASDP Cabang Bakauheni, Anton Murdianto.

Subscribe

Berlangganan Suara Persatuan? masukan email anda!