Mudik Di Tahun Politik

Jelang akhir ramadhan suasana kota mulai terasa begitu lengang, kosongnya jalan-jalan di ibu kota pun mulai terasa karena jutaan umat muslim perantau mulai meninggalkan kota untuk pulang ke kampung halaman. Seperti tahun-tahun sebelumnya suasana pergerakan arus mudik yang mulai terasa sejak H-7 lebaran tidak bisa dihindari bahkan selalu saja menjadi fenomena yang menarik untuk diikuti.

Mudik lebaran tahun ini ternyata menjadi pusat perhatian politik, tahun 2018 yang konon katanya menjadi tahun politik pun ternyata mampu mempolitisir suasana mudik lebaran menjadi salah satu momentum untuk menyuarakan aspirasi politik. Perang tagar yang sempat booming beberapa waktu lalu ternyata juga ikut dalam arus mudik lebaran. Jejeran spanduk bersimbolkan tagar memadati pojok-pojok jalan yang dilalui para pemudik, bentangan baliho para politisi juga sangat banyak terpampang dijalan-jalan walaupun sekedar ucapan selamat lebaran.

Mudik di tahun politik tidak memiliki perbedaan dengan mudik ditahun tahun sebelumnya karena esensi dari mudik adalah mendekatkan apa yang berjarak dan menyatukan apa yang terserak.

Boleh jadi suasana mudik lebaran dimeriahkan dengan berbagai baliho dan spanduk yang terpasang sepanjang jalur mudik tapi itu bukanlah penghalang untuk tetap merajut ukhuwah kita sesama anak bangsa.

Mudik dan Politik memiliki satu kesamaan makna bagi masyarakat Indonesia. Karena esensi dari mudik dan politik adalah menuju kesejahteraan bersama. Mari meriahkan suasana mudik dengan tetap berhati hati dijalan agar kita semua selamat sampai tujuan. Mari jadikan lebaran sebagai pembuktian bahwa kemenangan yang tersimbolkan pada suasana lebaran adalah kemenangan kita bersama yang tetap menjaga keutuhan bangsa.

Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir Dan Bathin

*Musa Al As’Ari

Subscribe

Berlangganan Suara Persatuan? masukan email anda!