Pengusaha Nilai Pergerakan Rupiah Sulit Diprediksi

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai pelemahan nilai tukar Rupiah sulit terprediksi. Hal ini dengan melihat ekspektasi pasar terhadap kenaikan Fed Fund Rate (FFR) 3 hingga 4 kali di 2018.

Setelah menaikkan FFR 25 basis points (bps) pada Maret lalu, The Fed diprediksi akan melanjutkan pengetatan moneter pada Mei mendatang.

Selain itu, dengan beberapa perusahaan asing di Indonesia yang melakukan pembagian deviden di awal tahun, pasti akan melakukan konversi Rupiah ke mata uang masing-masing negara. Hal ini pun mendorong pelemahan Rupiah.

“Kita sudah prediksi Rupiah sebelumnya pasti mengalami tekanan, terutama bulan-bulan antara Mei-Juni 2018 (mendatang),” ujarnya di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Selasa (24/4/2018).

Disisi lain, kinerja ekspor relatif tak mengalami pertumbuhan signifikan dari sisi volume. Padahal impor bahan baku cenderung cukup dominan, sehingga tingkat impor lebih besar ketimbang ekspor.

“Sehingga tekanan ini yang kita pandang akan masih akan berlanjut. Yang paling berpengaruh kebijakan Amerika Serikat itu sendiri,” ujarnya.

Kendati demikian, Hariyadi menilai, meski terprediksi namun pelemahan ini kurang diantisipasi. Sebab, dengan menengok ekonomi AS yang diprediksi terus mengalami perbaikan, tentu sudah diketahui hal itu akan berdampak pada pelemahan mata uang negara lainnya, termasuk Indonesia.

“Kita kurang antisipasi menyiapkan segala sesuatunya. Dan sebetulnya kita sudah warning, ini terlihat dari gejala pelemahan di sektor ritel, terjadi pelemahan di industri, kan mengalami penyusutan juga, dibanding tahun sebelumnya kontribusi stagnan,” jelasnya.

Oleh sebab itu, meski kondisi makroekonomi Indonesia cenderung terjaga, namun tetap perlu mengantisipasi faktor global. Perbaikan nilai tukar Rupiah, menurutnya akan terjadi secara alamiah. Seiring dengan kondisi ekonomi global, terutama AS.

“Jadi memang kita harus berhati-hati, bahwa walaupun kita kuat (makroekonomi) tapi dilapangan itu faktor global itu cukup dominan,” imbuhnya.

Namun, disisi lain menguatnya USD menjadi kondisi untuk lebih mendorong tingkat ekspor. Sementara, untuk impor harus diupayakan untuk tetap berjalan sesuai ketentuan yang ditetapkan pemerintah.

“Ekspor pasti akan menjadi motivasi kita (untuk didorong) dan untuk impornya akan berupaya supaya tidak keluar daripada norma yang sudah diatur dalam menghitung biaya yang ada,” pungkasnya.

Untuk diketahui, berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada 24 April 2018, Rupiah berada di level Rp13.900 per USD.

banner 468x60

Subscribe

Berlangganan Suara Persatuan? masukan email anda!