Mahasiswa Kedokteran UMS Racik Daun Sirsak Jadi Permen Obat Kanker

Kanker adalah salah satu penyakit mematikan penderitanya terus bertambah setiap tahun. Faktor penyebab penyakit ini antara lain disebabkan ketidakteraturan perjalanan hormon yang mengakibatkan tumbuhnya daging pada jaringan tubuh yang normal atau sering dikenal sebagai tumor ganas.

Selain itu, gejala ini juga dikenal sebagai neoplasma ganas dan sering kali ditandai kelainan siklus sel khas yang menimbulkan kemampuan sel untuk tumbuh tidak terkendali (pembelahan sel melebihi batas normal), menyerang jaringan biologis di dekatnya, bermigrasi ke jaringan tubuh yang lain melalui sirkulasi darah atau sistem limfatik disebut metastasis.

Salah seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muhammamdiyah Surakarta (UMS), Wimmy Safaati Utsani, mengatakan pengobatan kanker ada beberapa metode di antaranya melalui kemoterapi. Namun kemoterapi cukup mahal dan banyak efek sampingnya.

Karena itulah, Wimmy mencari alternatif pengobatan lain yang lebih murah, mudah dikonsumsi, dan minim efek negatif. Untuk itu pilihan jatuh pada obat herbal dengan bahan baku daun sirsak.

Berdasar informasi yang diambil dari beberapa jurnal terkemuka, kata dia, daun sirsak mempunyai banyak khasiat dahsyat untuk mengobati kanker. “Berdasar jurnal yang saya ketahui daun sirsak berkhasiat 10.000 kali lebih ampuh dibanding kemoterapi untuk melawan sel kanker,” kata dia saat ditemui Solopos.com di kampusnya, belum lama ini.

Buah Sirsak

Dia mengatakan daun sirsak diyakini mengandung annonaceous acetogenins yaitu senyawa fitokimia terpenting yang terdapat pada tanaman sirsak. Senyawa ini bersifat sitotoksik yang secara spesifik ditemukan pada tanaman dari keluarga annonaceae.

Guna mewujudkan gagasannya dia melakukan percobaan membuat permen jeli dengan mengambil tujuh lembar daun sirsak muda yang direbus dengan air secukupnya sampai mendidih dan warna airnya berubah menjadi cokelat. Setelah itu daun diambil dan air rebusan tadi diberi asam sitrat, gula rendah kalori, dan agar-agar.

Racikan itu kemudian dia masukkan ke lemari pendingin atau kulkas hingga membeku. “Ini tidak memakai bahan pengawet sehingga aman dikonsumsi. Selain untuk penderita kanker permen ini juga aman untuk dikonsumsi penderita diabetes karena menggunakan gula rendah kalori,” kata dia.

Hasil gagasannya ternyata mendapat apresiasi menggembirakan. Ketika dia mengikuti kompetisi karya inovasi tingkat internasional World Invention and Technology Expo (Wintex) 2018 di Institut Teknologi Bandung (ITB), awal Maret lalu berhasil menyabet juara II.

Subscribe

Berlangganan Suara Persatuan? masukan email anda!