Poros Mahasiswa-Tingkatkan Literasi agar Kritis terhadap Informasi

Berita bohong atau hoax kini jadi ancaman baru di masyarakat yang menuntut kerja keras semua pihak, terutama pemerintah, untuk mengatasinya. Penyebaran informasi hoax beberapa tahun belakangan ini meluas terutama di media sosial. Masyarakat dengan mudah mengkonsumsi hoax  karena masuk melalui berbagai platform media sosial, baik Facebook, Instagram, Twitter, maupun WhatsApp. Tidak hanya teks, hoax ini juga berbentuk foto atau meme.

Ditengah gelombang besar informasi yang menerjang setiap detik, turut hanyut sampah-sampah di dalamnya berupa hoax yang bagi sebagian masyarakat kadang sulit dipilah mana yang benar mana yang palsu. Kekhawatiran muncul karena informasi hoax ini berpotensi menyebarkan fitnah, membunuh karakter seseorang, bahkan menjadi bibit munculnya konflik di masyarakat.

Dampak negatif yang ditimbulkannya tidak berhenti di dunia maya, tetapi juga berefek hingga dunia nyata. Situasi keamanan makin rentan ketika penyebaran hoax masif di momentum tertentu, seperti pelak sanaan pilkada serentak yang akan digelar pertengahan tahun ini. Pemerintah melalui kepolisian sudah bertindak cepat dengan menindak pelaku penyebaran hoax.

Sudah banyak pelaku yang di pidana. Mencari akar masalah tumbuh suburnya hoax di masyarakat Indonesia tak lepas dari faktor minimnya kemam puan literasi media. Perlu memperkaya bacaan agar tahu informasi mana yang di butuhkan.

Masyarakat yang tidak siap dengan limpah ruah informasi yang menghambur tiap detik di media sosial bisa dengan mudah percaya pada informasi yang tidak jelas dan tidak bisa di pertanggung jawabkan kebenarannya. Minim nya kemampuan literasi media ini menjadikan masyarakat sering tidak memfilter dan tidak kritis atas informasi yang diterimanya.

Bahayanya adalah ketika berita hoax yang diterima itu tidak hanya dikonsumsi, tetapi juga ikut dishare ke orang lain. Terjadilah penyebaran berita bohong secara berantai. Langkah-langkah yang dapat di ambil dalam mencegah penyebaran informasi hoax antara lain menegakkan peraturan untuk memberi efek jera kepada pelaku.

Penegakan hukum melalui penerapan UU ITE hal yang tidak bisa ditawar. Namun, selain pendekatan hukum, juga perlu pendekatan lain yang dilakukan secara simultan. Hal lain yang bisa dilakukan dalam memerangi hoax adalah mengedukasi masyarakat, terkhusus para generasi milenial yang lebih banyak berselancar di media sosial.

Para generasi muda ini perlu diperkuat kemampuan literasinya agar dapat mencerna dengan baik setiap informasi yang masuk melalui perangkat gawai miliknya. Perlu dibangun kesadaran bahwa untuk mempercayai sebuah informasi terlebih dulu harus di pastikan dari mana sumber informasi tersebut.

Klarifikasi sangat penting untuk informasi yang masih diragukan kebenaran serta keabsahannya. Valid atau tidaknya sebuah informasi antara lain bisa dilihat pada sumbernya; apakah ia berasal dari media massa yang cukup kredibel, atau jika sumbernya seseorang apakah ia dapat dipercaya keilmuannya? Tak kalah penting adalah mencari informasi lain sebagai pembanding.

Setiap individu penting memiliki kesadaran ini. Kata kuncinya adalah bijak bermedia sosial. Ini memang tidak mudah karena kebiasaan bertabayun atau mengklarifikasi kini makin luntur. Banyak orang yang dihinggapi penyakit malas untuk melakukan pengecekan atas sebuah informasi.

Bahayanya adalah ketika konten hoax tersebut menyangkut isu ras, agama, suku, dan antar golongan (SARA). Untuk itu, pada tahun politik ini semua pihak dituntut untuk bijak dalam menggunakan media sosial. Dan, bagi pemerintah perlu upaya sungguh-sungguh untuk melindungi masyarakat dengan berbagai kebijakan dalam menangkal hoax.

Tidak cukup hanya dengan memblokir akun-akun penyebar hoax dan akun-akun palsu, tapi juga perlu tindakan tegas dengan memidanakan orang yang terbukti melanggar dengan menggunakan UU ITE.

*HILFUL FUDHUL

Mahasiswa Manajemen Dakwah

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

banner 468x60

Subscribe

Berlangganan Suara Persatuan? masukan email anda!