Pilwakot Bandung: Oded Paling Kuat Tapi Belum Aman. Posisi Wakil Bersaing Ketat.

Dinamika politik jelang pilkada  Kota Bandung kian menggeliat. Sejumlah bakal calon (balon) walikota dan wakil walikota sudah bermunculan. Pertarungan masih di babak awal yaitu memperebutkan tiket dari partai politik. Kini, persaingan memperebutkan dukungan partai politik sedang berlangsung sengit. Mereka berebut rekomendasi yang belum tentu pasti. Partai politik pun tengah menimbang-nimbang kandidat yang layak untuk diusung sembari mengatur strategi membangun koalisi. Di tengah ketidakpastian rekomendasi, para kandidat dan parpol masih harus berjuang untuk memperoleh dukungan 20 persen dari jumlah kursi di DPRD. Sementara itu, para kandidat masih harus menggalang dukungan pemilih sebagai modal untuk memenangi pilkada apabila kelak mereka beruntung mendapatkan dukungan partai dan ditetapkan menjadi pasangan calon oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah.

Ketidakpastian rekomendasi tentu membuat perasaan was was bagi para bakal calon yang ingin maju dalam kontestasi pilkada Kota Bandung, di sisi lain mereka harus berjibaku untuk memperoleh elektabikitas tinggi sebagai salah satu syarat mendapatkan rekomendasi dari partai. Sedangkan untuk mendapatkan elektabilitas tinggi harus memiliki modal sosial yang tinggi pula. Untuk mencapai hal itu, diperlukan sosialisasi dalam berbagai bentuk dan model, seperti sosialisasi tatap muka langsung di masyarakat hingga publikasi melalui beragam alat peraga hingga di berbagai jaringan dan jenis media. Semua itu tentu membutuhkan biaya tinggi. Belum lagi biaya yang dikeluarkan untuk mengurus rekomendasi, pastilah akan menambah ongkos politik menjadi membengkak. Hal inilah yang menjadi faktor paling signifikan yang menyebabkan banyaknya kepala daerah terjerembab dalam kasus korupsi. Maka jika saja ongkos politik dapat ditekan maka akan berbading lurus dengan menurunnya perilaku korupsi kepala daerah. Sekurang-kurangya korupsi kepala daerah dapat ditekan.

Peta Kekuatan Kandidat

Di tengah sengitnya perebutan tiket pencalonan, lalu bagaimana peta kekuatan dukungan para kandidat di kalangan pemilih? Untuk memetakan tingkat dukungan kandidat, CiGMark Research & Consulting telah melakukan survei opini publik yang dilakukan  pada 1 – 12 Desember 2017 untuk mengukur preferensi pemilih terhadap suksesi kepemimpinan di Kota Bandung 2018 mendatang.

Dari sejumlah nama kandidat yang diuji dalam survei CIGMark Research & Consulting dapat disimpulkan nama wakil walikota Bandung Oded M Danial memiliki dukungan paling kuat. Dari simulasi 12 nama yang diuji tingkat elektabilitas Oded paling tinggi,  berada di urutan 1 dengan elektabilitas 27,3 persen. Disusul mantan wakil walikota Bandung Ayi Vivananda 8, 1 persen, M Farhan 8,0, Nurul Arifin 5,5, Yossi Irianto, 5, 1, Gatot Tjahyono 4,9, Fiki Satari 2,3, Dandan Riza Wardana 2,2, Iwa Gartiwa 2,1, Arfiana 1,3, Aries Supriatna 1,3, Yana Mulyana 0,9 dan pemilih yang merahasiakan dan belum memutuskan sebesar 31 persen. Sementara jika di uji dalam simulasi 6 nama berikut, posisi elektabilitas Oded M Danial 29.1%,  M Farhan 13.2 %,

Nurul Arifin 9.2%, Dandan Riza Wardana 4.2%, Aries Supriatna 3.1%, Yana Mulyana 1.6%, rahasia/tidak tahu/tidak jawab masih tinggi yaitu 39.60%. Selain itu, dalam simulasi 6 nama dengan memasukkan formasi yang berbeda, posisi Oded tetap masih di atas meskipun ada kecenderungan menurun dengan elektabilitas 28.2%, disusul Ayi Vivananda 11.4, Nurul Arifin 8.2, Gatot Tjahyono 6.9, Yossi Irianto 6.5 dan pemilih yang menjawab rahasia/tidak tahu/tidak jawab masih cukup besar yakni 35.4%. Kesimpulan yang dapat ditarik dari peta kekuatan dukungan balon walikota Bandung adalah Oded paling kuat, sementara di bawahnya terjadi persaingan ketat antara Ayi, Farhan, Nurul Arifin dan Gatot, lalu menyusul persaingan berikutnya adalah Dandan Riza Wardana, Fiki Satari, dan Iwa Gartiwa.

Sementara itu elektabilitas untuk Calon Wakil Walikota juga terjadi persaingan ketat jika dilihat dari posisii elektabilitas calon wakil walikota berikut ini; M Farhan 10.2, Yossi 9.2, Gatot 7.3, Viki Satari 4.6, Dandan Riza Wardana 3.2, Yana Mulyana 2.7, Arfiana Rafnialdi 2.1, Chaerul Yakin (Ruly) 2.0, Iwa Gartiwa 1.4, Aries Supriatna 1.3, Deny Zaelani 0.9, Haru Suhandaru 0.2 dan Tidak Tahu/tidak jawab 54.9 persen. Dari posisi elektabilitas calon walikota tersebut maka dapat disimpulkan bahwa pertarungan posisi wakil masih dalam “pasar bebas” dengan kata lain semua kandidat masih memiliki peluang yang sama karena selisih elektabilitasnya tidak terpaut jauh dan jumlah swing votersnya masih sangat besar.

Oded Terkuat Tapi Belum Aman

Meskipun elektabilitas Oded berada di paling puncak tetapi masih belum aman. Ada tiga faktor yang membuat posisi kader PKS yang menjabat sebagai wakil walikota Bandung saat ini belum aman;
Pertama, jumlah swing voters masih cukup tinggi yaitu 77.3 persen. Sementara pemilih loyal (strong supporter) Oded baru 10.4 persen; Kedua, pertarungan politik masih sangat dinamis yang memungkinkan potensi perpindahan pemilih masih cukup besar; Ketiga, masih ada kemungkinan Oded gagal maju jika tidak mendapat dukungan dari partai lain. Dalam pertarungan politik terkadang bisa terjadi perubahan yang sangat cepat dan terjadi di luar prediksi. Selain itu dengan munculnya figur-figur seperti M Farhan dan Nurul Arifin yang memiliki latar belakang artis bisa berpotensi menjadi ancaman bagi Oded. Begitu juga, dengan adanya figur Dandan Riza Wardana yang merupakan putra Ateng Wahyudi mantan walikota Bandung yang cukup memiliki magnet politik dalam kontestasi pilkada. Pasalnya political endorsement cukup memiliki pengaruh dalam mempengaruhi pemilih –dimana kultur di Indonesia pada umumnya sangat paternalistic.

*Panca Pratama

Subscribe

Berlangganan Suara Persatuan? masukan email anda!