Tulus Makin Sukses Sebagai Penyanyi

Penyanyi asal Bandung, Tulus, semakin mengukuhkan dirinya sebagai salah satu penyanyi pria terbaik di Tanah Air. Pada ajang penghargaan Anugerah Musik Indonesia (AMI) 2017, dia menyapu enam piala AMI.

Disiarkan langsung oleh RCTI dari Teater Garuda Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, pada pertengahan pekan lalu, enam piala yang berhasil dibawa pulang pelantun Jangan Cintai Aku Apa Adanya ini menandai enam tahun dirinya berkarier di industri musik Indonesia. Kategori yang dimenangkannya adalah Karya Produksi Terbaik-Terbaik, Album Terbaik-Terbaik, Produser Album Rekaman Terbaik, Artis Solo/R&B/Urban Terbaik, Album Soul/R&B/Urban Terbaik, dan Tim Produksi Suara Terbaik.

Penghargaan Album Terbaik-Terbaik didapatnya berkat album ketiga berjudul “Monokrom”, mengalahkan karya milik Rossa (“A New Chapter”), Bunga Citra Lestari (“Its Me BCL”), Maliq & D’Essentials (“Senandung Senandika”), dan Afgan (“Sides”). Penghargaan ini diterima Tulus dari tangan musisi Indra Lesmana.

“Alhamdulillah, Assalamualaikum, saya bersyukur atas penghargaan ini, apalagi diserahkan Indra Lesmana,” katanya. Selain Album Terbaik-Terbaik, pemilik nama lengkap Muhammad Tulus ini juga meraih penghargaan untuk kategori Karya Produksi Terbaik dengan lagu Monokrom.

Dalam kategori tersebut, dia mengalahkan Bunga Citra Lestari (Aku Wanita), Dipha Bharus feat Nadin (All Good), GAC & The Overtune (Senyuman & Harapan), serta Raisa & Isyana (Anganku Anganmu). Kala menerima penghargaan yang diberikan Reza Artamevia dan Harvey Malaiholo, Tulus turut mengungkap makna di balik lagu yang dia tulis sendiri itu.

“Lagu Monokrom saya tulis sebagai ungkapan terima kasih saya untuk banyak sekali orang yang sudah berjasa dalam perjalanan hidup saya selama ini, terutama dalam perjalanan musik saya,” tuturnya.

Menilik ke belakang, pencapaian yang ditorehkan solois kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat, 20 Agustus 1987, ini tidak jauh berbeda dengan yang terjadi pada 2015 saat namanya sukses memenangkan lima piala sekaligus dari tujuh kategori nominasi yang diterimanya.

Pada 2016, Tulus juga dinobatkan sebagai Penyanyi Pop Pria Terbaik oleh AMI. Album “Monokrom” merupakan album ke-3 Tulus yang dirilis pada 3 Agustus 2016. Tulus menyebut karya musiknya dengan aliran eklektik yang merupakan perpaduan berbagai aliran musik, mulai jazz, soul, R&B, hingga pop.

Dalam album solo ketiganya ini, Tulus banyak bereksplorasi, antara lain dengan menghadirkan suara-suara yang baru, seperti alat musik tradisional ukulele.

Dia juga menggandeng The City of Prague Philharmonic Orchestra dengan melakukan rekaman di Praha, Republik Ceko, untuk album ini. Ari Renaldi selaku produser “Monokrom” yang juga memenangkan penghargaan sebagai Tim Produksi Suara Terbaik tahun ini memberikan ucapannya.

“Prinsip saya dan Tulus bahwa dalam berkarya, kami berkarya saja, selalu berusaha menghasilkan yang terbaik, yang terpenting kami sendiri puas dengan hasil karya tersebut,” katanya.

Sementara itu, penyanyi solo idola saat ini, Raisa dan Isyana, berhasil menorehkan prestasi lewat proyek kolaborasi Raisa x Isyana dengan meraih penghargaan dalam kategori Karya Produksi Kolaborasi Terbaik dan kategori Duo/Grup/Vokal/Soul Kolaborasi Terbaik. Keduanya berhasil mengalahkan grup atau kolaborasi lainnya, seperti GAC, hiVi!, Krakatau Reunion, dan RAN.

Isyana mengaku, duetnya dengan Raisa tidak hanya diterima pencinta musik Tanah Air, tetapi juga berhasil menyatukan penggemar keduanya dan memecahkan stigma yang ada selama ini.

Selain itu, Yura Yunita mengejutkan dengan kesuksesannya membawa pulang piala Artis Solo Wanita Pop Terbaik. Penyanyi berusia 26 tahun ini menyingkirkan para seniornya di industri musik Indonesia, seperti Agnez Mo dan Rossa, serta Bunga Citra Lestari dan Isyana Sarasvati. Setelah karyanya mendapat apresiasi, Yura Yunita kiat terlecut untuk menghasilkan karya lebih baik lagi di kemudian hari.

“Dapat penghargaan ini aku jadi semakin semangat untuk berkarya, nulis lagu, dan merilis album,” kata Yura. Yayasan AMI Awards juga memberikan piala untuk kategori Legenda Hidup, Musisi, dan Penyanyi Senior kepada Fariz Rustam Munaf (Fariz RM). Penghargaan ini diberikan langsung Ketua Yayasan AMI Dwiki Darmawan. Adapun musisi yang telah wafat turut diberikan Legend Awards. Piala diberikan kepada mendiang Harry Roesli, Bartje van Houten, serta Benny Panjaitan. (Thomasmanggalla)

banner 468x60

Subscribe

Berlangganan Suara Persatuan? masukan email anda!