Genjot Elektrifikasi, Tujuh Proyek Pembangkit di Kawasan Timur Diresmikan

Tujuh proyek pembangkit di Provinsi NTB dan NTT diresmikan sebagai upaya pemerataan akses listrik ke seluruh Indonesia.

Ketujuh pembangkit berkapasitas total 400 MW dengan nilai investasi Rp6 triliun tersebut akan meningkatkan rasio elektrifikasi di NTB dan NTT. Menteri ESDM Ignasius Jonan mengatakan, ketujuh pembangkit tersebut terdiri atas enam proyek berkapasitas 350 MW senilai Rp4,8 triliun dengan status memasuki tahap peletakan batu pertama atau groundbreaking dan satu proyek berkapasitas 50 MW senilai Rp1,2 triliun yang mulai dioperasikan.

Keenam proyek yang memasuki groundbreaking adalah PLTGU Lombok Peaker berkapasitas 150 MW dengan investasi Rp1,6 triliun. Proyek di Desa Tanjung Karang, Kota Mataram, NTB, itu akan menyerap 365 tenaga kerja pada fase konstruksi dan 25 orang saat operasi serta diharapkan beroperasi komersial (commercial on date/ COD) pada Februari 2019.

Proyek selanjutnya adalah Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Bima 50 MW senilai Rp637 miliar di Dusun Bonto, Kota Bima, NTB, dengan estimasi penyerapan 300 tenaga kerja. PLTMG Bima direncanakan COD pada Oktober 2018.

Ketiga, PLTMG Sumbawa 50 MW senilai Rp744 miliar di Desa Labuan Badas, Kabupaten Sumbawa, NTB. Proyek ini menyerap 285 tenaga kerja dengan target selesai Oktober 2018.

Keempat, PLTMG Kupang Peaker 40 MW senilai Rp700 miliar dengan target selesai November 2018.

Pembangkit di Dusun Panaf, Kabupaten Kupang, NTT, ini menyerap 300 tenaga kerja. Kemudian, Mobile Power Plant(MPP) Flores20MWsenilai Rp427 miliar di Dusun Rangko, Kabupaten Manggarai Barat, NTT. Proyek akan menyerap 210 tenaga kerjamasa konstruksi dan 25 orang fase operasi.

Keenam, PLTMG Maumere 40 MW dengan nilai investasi Rp694 miliar. Proyek berlokasi di Desa Hoder, Kabupaten Sikka-Flores, NTT, ini akan menyerap 285 tenaga kerja. Selain itu, satu proyek yang mulai dioperasikan adalah PLTU Lombok Timur 2×25 MW di Desa Padakguar, Kabupaten Lombok Timur, NTB.

Proyek senilai Rp1,2 triliun ini telah menyerap 1.200 tenaga kerja saat konstruksi dan 470 saat operasi dengan persentase 95% dari Lombok yang 85% di antaranya warga Padakguar. Menteri ESDM mengatakan, pemerintah terus berupaya agar infrastruktur kelistrikan segera terbangun untuk memperluas akses listrik kepada masyarakat dengan harga terjangkau melalui program 35.000 MW beserta infrastruktur pendukungnya.

”Pemerintah berkomitmen meningkatkan rasio elektrifikasi yang saat ini telah lebih dari 93%, tahun 2019 minimal 96%. Kalau bekerja keras, bisa 99% pada 2019. Naiknya hampir tiga persen per tahun, ini luar biasa sekali,” ujarnya.

Jonan menjelaskan, apabila seluruh proyek kelistrikan di NTB dan NTT beroperasi pada 2019, itu bisa memenuhi seluruh kebutuhan listrik di kedua provinsi tersebut. ”Dengan beroperasinya proyek, kebutuhan listrik di NTB dan NTT tidak akan kurang. Total kapasitas 350 MW akan bisa melayani 350.000-400.000 pelanggan rumah tangga 900 va,” tambahnya.

Menteri Jonan juga menyampaikan apresiasinya atas dukungan Pemda NTB-NTT sehingga proyek ditargetkan selesai pada 2018, kecuali PLTU Lombok Peaker pada 2019. ”Saya juga sangat berterima kasih atas dukungan Bapak Gubernur NTB dan NTT, karena dukungan ini sangat penting untuk pengembangan listrik.

PLTGU Lombok Peaker akan memakan waktu sampai 2019, lainnya selesai 2018,” katanya. Untuk pengelolaan kelistrikan, Menteri Jonan berpesan kepada direksi PLN memberikan contoh efisiensi investasi dan biaya operasi, sehingga IPP bisa mengendalikan tarif listriknya dan tarif listrik tidak naik, tapi turun.

”Saya mohon kepada PLN untuk memberikan contoh efisiensi terhadap investasi per MW dan biaya operasi, sehingga IPP bisa mengikuti, kalau bisa tarif listrik tidak naik, tapi turun,” harapnya. Sekretaris Daerah NTB Rosihadu Sayuti menyampaikan terima kasihnya atas prioritas pemerintah menerangi wilayah timur Indonesia.

”Mudah-mudahan apabila infrastruktur ketenagalistrikan ini sudah mantap, maka industri, olahan, hilirisasi, UMKM di NTB ini tumbuh berkembang dan meningkatkan kesejahteraan rakyat,” ujarnya. Dirut PLN Sofyan Basir menyatakan komitmen PLN mendukung pemerintah mewujudkan program 35.000 MW.

Dia melaporkan saat ini kondisi kelistrikan nasional sudah cukup dan tidak ada pemadaman listrik seperti di Lombok, cadangannya 299 MW dengan be-ban puncak 227MW.”Beberapadaerahsudah memiliki cadangan listrik ratarata 30%, di Lombok cadangannya 72 MW,” katanya.

(okezone.com) (tro) (rhs)

banner 468x60

Subscribe

Berlangganan Suara Persatuan? masukan email anda!