Serangan Jantung di Usia Muda, Kenapa Bisa Terjadi?

Penyakit jantung kini bukan lagi ‘monopoli’ kaum lanjut usia. Ketahui faktor risiko dan upaya pencegahannya!

Serangan jantung yang menimpa kalangan usia muda bisa diibaratkan sebagai fenomena gunung es. Kita hanya melihat bagian puncaknya saja, sedangkan bagian terbesarnya tidak terekspos secara luas.

Penyakit Jantung Koroner

Menurut Info Pusdatin Kementerian Kesehatan RI yang diolah dari Data Riskesdas 2013 berdasarkan diagnosis/gejala pada kelompok usia 15-44 tahun, jumlah penderita jantung koroner sebanyak 1.161.339 orang (2,9%) dan penderita gagal jantung 158.850 orang (0,4%).

Penyakit Jantung Koroner (PJK), ditandai dengan menyempitnya pembuluh darah koroner akibat menumpuknya plak. Hal ini terjadi karena plak yang bahan dasarnya lemak masuk ke dalam dinding pembuluh darah dan lama-kelamaan akan membesar seperti ‘bisul’.

‘Bisul’ tersebut bisa pecah sewaktu-waktu dan akan memicu penggumpalan darah sehingga menyumbat pembuluh darah. Saat itulah terjadi serangan jantung, dimana jantung tidak lagi memperoleh pasokan darah yang berisi oksigen dan nutrisi. Pada kondisi yang berat, serangan jantung bisa mengakibatkan kerusakan otot jantung yang permanen.

Pecahnya timbunan plak ini dipicu oleh kondisi tertentu, misalnya PJK sedang marah-marah (emosional) atau kelelahan akibat melakukan aktivitas fisik yang berlebihan. Pada saat itu, jantung akan berdenyut cepat sehingga darah mengalir deras. Aliran darah yang deras akan menabrak ‘bisul’ hingga pecah.

Pengaruh Gaya Hidup

Faktor risiko PJK utamanya berhubungan dengan gaya hidup seseorang, seperti merokok, kurang berolahraga, dan mudah stres. Selaini tu, hipertensi (tekanan darah tinggi) dan diabetes, yang sangat berhubungan dengan gaya hidup, juga merupakan faktor risiko PJK. Hal yang menyedihkan saat ini adalah maraknya kalangan usia muda yang merokok, baik pria maupun wanita. Rilis data survei pun menunjukkan tren yang terus naik terhadap perilaku merokok di kalangan berusia 15 tahun ke atas. Padahal, asap rokok menjadi ancaman nyata pada PJK.

Untuk mencegah PJK, mutlak diperlukan gaya hidup yang sehat. Panca usaha SEHAT dari Yayasan Jantung Indonesia ini patut Anda aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari:

  • Seimbangkan gizi

Pastikan asupan harian mengandung nutrisi lengkap seimbang serta memperbanyak asupan buah dan satur. Kurangi karbohidrat dan hindari makanan/minuman tinggi kalori, garam, lemak jenuh, trans-fat, serta mendapatkan tambahan gula (added sugar).

  • Enyahkan rokok

Dengan tidak meroko, faktor risiko terkena PJK menjadi berkurang

  • Hadapi dan kelola stres

Imbangi stres dengan melakukan kegiatan yang menenangkan, seperti relaksasi, meditasi, yoga, berolahraga, hiburan dan cukup tidur

  • Awasi tekanan darah secara teratur

Rutin periksa tekanan darah agar dapat mendeteksi dini kemungkinan adanya faktor risiko PJK. Selain itu, pantau juga gula darah, kolesterol, dan lingkar perut

  • Teratur berolahraga

Sempatkan melakukan olahraga setiap hari selama 30 menit. Bisa dalam bentuk jalan kaki cepat, jogging, atau bersepeda.

Selain gaya hidup, terdapat beberapa faktor risiko yang tidak bisa kita kendalikan yang untungnya proporsinya tidak besar, antara lain:

  • Kelainan darah

Contoh, seseorang yang darahnya mudah menggumpal atau alirannya lambat, meski pembuluh darahnya bersih, memiliki risiko terkena serangan jantung

  • Jenis kelamin

Kaum pria lebih berisiko dibanding kaum wanita. Pasalnya sebelum masuk masa menopause, wanita dilindungi oleh hormon estrogen. Saat menopause, risiko PJK pada wanita akan meningkat

  • Usia

Yang dimaksud dengan usia di sini sebenarnya adalah usia fisiologis. Meskipun seseorang sudah berusia lanjut, tapi bila semasa hidupnya menjalani pola hidup sehat sehingga usia sel-sel tubuhnya terbilang awet muda, maka risiko PJK tidak terlalu tinggi. Sebaliknya, seseorang yang berusia relatif muda, tapi tidak menjaga kesehatan tubuh maka sel-sel tubuhnya menua sehingga lebih berisiko terjangkit PJK

  • Genetik

Jika seseorang terkena PJK di usia muda, maka anaknya disarankan untuk melakukan medical check up. Sebab, terkena penyakit jantung di usia muda pada orang yang relatif sehat adalah tidak wajar, apalagi bila pola hidup yang dijalaninya tergolong sehat.

Check Up Sebelum Terlambat

Memasuki usia 40 tahun, ada atau tidak ada keluhan, disarankan melakukan medical check up. Jika dalam pemeriksaan didiagnosa mengidak PJK, tindakan akan diambil dokter berdasarkan derajat penyempitan yang tergolong berat harus dilakukan intervensi, seperti dipasang ring (stent). Apabila ditemui penyempitan pembuluh darah yang cukup banyak, maka dilakukan bypass jantung (Coronary Artery Bypass Graft).

Pemasangan ring pada pembuluh darah yang menyempit atau membuat ‘jalur baru’ (bypass bertujuan untuk memperlancar aliran darah ke jantung. Dengan demikian, kualitas hidup seseorang penderita PJK diupayakan menjadi lebih, terlebih lagi jika dibarengi dengan pola hidup yang menjaga kesehatan.

 

* Berlian I. Idris, Sp.JP(K), FIHA, MPH, DSc

Dokter Spesialis Jantung 

banner 468x60

Subscribe

Berlangganan Suara Persatuan? masukan email anda!