Celoteh Sri Mulyani: Laki-Laki Sering Salah dan Perempuan Bisa Tekan Angka Korupsi

Menteri Keuangan Sri Mulyani hari ini menjadi pembicara dalam workshop nasional perempuan legislatif, eksekutif, dan kader Partai Golkar. Dalam paparannya, Sri Mulyani banyak membahas tentang pentingnya peran perempuan dalam pengambilan sebuah keputusan.

“Kalau keputusan laki-laki sering salahnya, kalau enggak ada perempuan bisa begitu, banyak research yang mengatakan begitu,” kata Sri Mulyani di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (27/8/2017).

Saat ini, lanjutnya, jumlah perempuan di parlemen masih tergolong kecil. Padahal, peran perempuan sangat diperlukan dalam mengambil sebuah keputusan.

“2014 jumlah kursi perempuan di DPR 17%, DPD 26%, DPRD 16,4%, DPRD Kabupaten kota 13,6%. Secara total rata-rata kursi yang diduduki oleh wakil perempuan dilegislatif hanya 14%. Ini nilai yang kecil. Beberapa melakukan kuota. Indonesia mencanangkan 13%-14%, itu kurang dari separuhnya. Oleh karena itu keterwakilan perempuan masih rendah dalam parpol, pejabat publik secara umum. Dari eselon 4,3,2,1 ada promosi, rotasi, mutasi saya selalu minta harus ada perempuannya,” ujarnya.

Peran perempuan juga dibutuhkan untuk menekan angka korupsi. Untuk itu, dibutuhkan peran perempuan dalam setiap instansi pemerintah.

“Studi mengatakan bahwa perusahaan memiliki dewan direkturnya ada perempuannya biasanya dikelola lebih baik dan korupsinya lebih rendah. Jadi kalau parpol di mana perempuannya lebih banyak harusnya korupsinya lebih rendah,” ungkapnya.

Pada kesempatan ini, Sri Mulyani juga bercerita tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia. Menurutnya, salah satu tujuan utama dari kemerdekaan adalah mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia.

“Tujuan negara memajukan kesejahteraan umum,” kata Sri Mulyani.

Sri Mulyani menekankan, perlu kerjasama dengan berbagai pihak untuk menekan angka kemiskinan. Peran perempuan juga sangat penting ingin menekan angka kemiskinan melalui berbagai sektor.

Pada sektor kemiskinan, Sri Mulyani juga menyoroti peran perempuan dalam peningkatan gizi anak. Sebab, saat ini 30% anak Indonesia masih menderita kekurangan gizi.

“Sekarang anak kurang gizi ada sekitar 30%. Jangan bicara kemiskinan dan pertumbuhan tanpa kita memberikan perhatian pada masyarakat yang di mana anaknya kurang gizi,” ujarnya.

Parpol pun diharapkan dapat berperan dalam pengentasan angka kemiskinan. Dengan begitu, maka angka kemiskinan di Indonesia dapat terus ditekan pada berbagai daerah.

(dni)

banner 468x60

Subscribe

Berlangganan Suara Persatuan? masukan email anda!